Mari Mengenal Radio tjap Roti

 

Di kalangan penggemar radio antik dikenal satu istilah yang populer yakni “Radio Roti”, sebuah radio berukuran kecil terbuat dari kotak plastik keras yang tahan panas. Julukan roti itu sendiri barangkali muncul karena bentuknya yang sekilas mirip sebungkah roti tawar.  Sudut-sudutnya yang  tumpul mengesankan bentuk yang lembut, klasik, tidak kaku. Mirip roti tawar.

Istilah roti ini semula untuk memudahkan orang menyebut radio-radio Philips berukuran kecil yang terbuat dari bakelite. Karena Philips mengeluarkan beberapa seri yang nyaris sama bentuknya dan tidak semua orang hafal tipenya maka orang kemudian memberi istilah sama untuk semua radio tersebut.

Padahal sebenarnya produsen lain juga memproduksi radio sejenis semisal Bush dari Inggris, lalu Braun dari Jerman, termasuk juga Erres, NSF yang menggunakan lisensi  Philips. Di Amerika radio radio kecil (midget radio) seperti itu malah banyak diproduksi ketimbang di negara lainnya. Belakangan orang akhinya menamai semua radio-radio kecil bakelite dengan nama sama, tak peduli merknya. Misal radio roti Inggris, radio roti Amerika. Meski demikian nama “radio roti” di kalangan masyarakat masih melekat ke radio buatan Philips.

Radio Penanda Jaman
Pada tahun ’50an Philips mengeluarkan lini baru radio, yakni radio kecil dengan bahan kotak bakelite dan menggunakan 5 tabung di dalamnya.  Kemunculannya dimungkinkan oleh kehadiran teknologi baru tabung tipe U atau Universal yang dirilis akhir ’40an.

Dengan tabung baru tersebut radio mampu bekerja di AC maupun DC, dan yang terutama adalah tidak membutuhkan trafo power supply di dalamnya. Radio dengan sendirinya dapat dibuat lebih kecil, ringan, dan murah.  Tak heran jika radio roti amat populer di kalangan masyarakat kala itu. Bahkan hingga sekarang pun radio roti bekas masih melimpah dibanding jenis lainnya.

Kehadiran radio roti juga menandai era asembling lokal produk-produk Belanda di Indonesia. Jika sebelumnya N.V Philips hanya berperan sebagai agen sales maka sejak 1947 beralih ke pabrik perakitan produk produknya seperti lampu, radio, dan alat rumah tangga lainnya. Philips pun menambah kode baru dalam penomeran seri produknya yakni IN,  untuk INdonesia, jika sebelumnya adalah X yang berarti rakitan Belanda-Belgia. Maka mulailah beredar radio dengan seri B-IN sebagai kode baru radio table top yang dirakit di Indonesia (lihat pengidentifikasiannya di sini)

Menurut buku Pedoman Service 25 Radio Indonesia yang dikeluarkan oleh PN Ralin 1961 terdapat 10 jenis radio roti rakitan lokal yakni seri BIN 115U, BIN186U, BIN197U, BIN206U,BIN236U, BIN318U, BIN326U,BIN 336U, BIN338U, B3IN667U. Semuanya terbuat dari casing bakelite. Kotak dan spare part didatangkan dari Belanda lalu dirangkai menjadi satu di perakitan Bandung.

Spek radio disesuaikan kondisi pasar Indonesia (tropen) saat itu yaitu hanya menangkap gelombang SW, catu daya tunggal 110V, dan koreksi nomer seri.  Semisal radio Cacah Gori yang di Belanda BX200U menjadi BIN206U,  lalu BX300U menjadi BIN318U, dan seterusnya.

Belakangan beberapa tipe radio roti juga dibuat versi kayunya, semisal di tipe BIN318U dan BIN238U berbahan kayu. Agaknya Philips harus berimprovisasi untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi dengan bahan lokal ketimbang menunggu kiriman kotak bakelite dari Belanda.

Mungil dan Berbahaya
Bentuknya yang mungil, mengkilat, dan terlihat “retro” menjadikan radio roti banyak dijadikan pajangan di rumah-rumah atau kafe. Apalagi ukurannya yang kompak memudahkan ditata menyatu dengan interior masa kini yang minimalis. Tapi siapa sangka dibalik bentuknya yang lucu tersimpan potensi bahaya.

     

Mirip sebuah lampu pijar maka agar dapat  “menyala”  tabung harus diberi tegangan filamennya. Biasanya menggunakan tegangan AC 6.3V yang diperoleh dari trafo power supply dalam radio.  Sebaliknya pada radio roti, filamen diperoleh langsung dari listrik PLN tanpa melalui trafo. Caranya adalah dengan merangkai secara seri (sambung berderet)  filamen sehingga total tegangannya sama atau mendekati sumber dayanya, misal 110, 220, atau 240V.

Biasanya dalam radio Philips terdapat 5 tabung  dengan filamen 14V (UCH42), 12.6V (UF41), 14V (UBC41), 45V (UL41) dan 31V (UY41). Bila kita jumlah voltasenya maka diperoleh angka 116.6V, mendekati tegangan AC 110V yang dipakai saat itu.  Karena menggunakan tegangan jala jala langsung dari sumbernya maka terdapat potensi mematikan dari radio jenis ini. Perhatikan dibawah:

Di atas adalah mesin radio roti Philips setelah dilepas dari kotak. Ada lima tabung yang terpasang dalam soket menyatu dengan rangka metal mesin sebagai ground.

Aliran positif (+)  listrik PLN akan langsung masuk ke filamen tabung yang diseri dan negatif  (-) menuju ground/rangka mesin. Pada kondisi ini tidak ada bahaya yang muncul. Sebaliknya jika polaritasnya terbalik maka tegangan positif akan mengalir ke rangka mesin. Radio tetap akan berfungsi tetapi semua kontak ke rangka bisa menimbulkan bahaya sengatan listrik, termasuk jika kita memegang lubang antenanya!

Tegangan 110V barangkali tak terlalu berbahaya karena sekarang selalu diperoleh dari trafo step down, tetapi ada beberapa menggunakan 220V terutama yang diimpor dari Eropa. Jenis seperti ini harus lebih diwaspadai ketimbang lainnya. Saya memiliki model B3G75U yang menggunakan tegangan 220V langsung dari PLN untuk menyalakan filamennya. Jika terbalik memasang colokan dan tak sengaja menyentuh antena maka…..wah bisa dramatis ceritanya….

Cara mengatasinya sederhana saja yakni dengan menandai polaritas yang benar pada colokan. Jika tespen tidak menyala maka colokan berada pada posisi yang benar dan tinggal diberi tanda (+) atau tulisan ATAS. Karena itu berhati hatilah sebelum menyalakan, terutama jika knob-knob depannya hilang. Radio seharusnya menghibur bukan mengundang malapetaka.

Kerusakan
Kebanyakan radio roti dibuat tahun ’50an. Selama puluhan tahun komponennya terpapar radiasi panas tabung. Apalagi kotaknya yang kecil membuat panas lebih cepat mengumpul. Jika radio kita nyalakan dalam 20-30 menit maka semua bagian kotaknya terasa panas, terutama di kanan belakang tempat UL41 dan UY41 menancap. Tak heran jika komponennya bisa molor nilainya atau rusak karena panas.

Kerusakan yang umum adalah filamen perata UY41 yang putus, cairan Elco mengering, OT putus, dial lamp mati karena putus filamen atau putus R droppernya, tabung yang aus akibat sering dinyalakan, dengung karena hum dan osilasi akibat kapasitor yang drop, dan kerusakan karena karat.

Kerusakan terparah bila karat (oksidasi) menyerang MFT (medium frequency transformer). Selain mustahil mencari penggantinya kecuali dari kanibal radio sejenis, gejalanya juga membuat frustasi yakni radio menyala dengan semua parameter yang normal tetapi tidak bisa menangkap siaran. Karat juga menyerang koil-koil penerima gelombang sehingga radio tidak bisa menangkap siaran samasekali kecuali bunyi mendesis di speaker.

Perawatan
Bahan bakelite tidak memerlukan perawaran yang rumit. Cukup dilap berkali-kali dengan kain halus maka permukaannya akan kembali bersinar. Jika diinginkan dapat menggunakan silicon spray seperti yang biasa digunakan pada sepeda motor.

Hanya saja jangan pernah mencuci bakelite dengan deterjen  atau sabun yang kuat, akan meninggalkan belang. Gunakan saja shampo atau sabun pencuci produk bayi yang lembut atau air saja. Kemudian angin anginkan. Setelah kering lap permukaannya berkali-kali dengan kain halus hingga terlihat mengkilap kembali.

 

Untuk bagian elektronik perawatannya sama seperti yang diuraikan di sini. Jika memungkinkan lakukan “turun mesin” setidaknya sekali ketika pertama radio dimiliki. Caranya dengan re-capping atau mengganti semua kapasitor tar hitam dengan yang baru, mengganti Elco dengan sepasang yang baru, mengganti C kopling di bagian final, dan mengganti R dropper dial lamp. Komponen lain seperti kapasitor keramik dan resistor relatif tangguh sehingga dapat diabaikan kecuali jika perlu.

Radio sebagaimana barang elektronik antik lainnya akan memberikan fungsinya yang maksimal jika kita rajin merawat dan memeliharanya. Karena itu jangan biarkan radio sekedar menjadi barang mati belaka, fungsikan dan terus dirawat niscaya masa kerjanya dapat bertahan lebih lama. Selamat bernostalgia.