<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Memoria Radio</title>
	<atom:link href="http://radiotabung.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://radiotabung.wordpress.com</link>
	<description>Untuk kenangan radio tabung</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Aug 2011 15:39:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='radiotabung.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Memoria Radio</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://radiotabung.wordpress.com/osd.xml" title="Memoria Radio" />
	<atom:link rel='hub' href='http://radiotabung.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mari Mengenal Radio tjap Roti</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2011/01/09/mari-mengenal-radio-tjap-roti/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2011/01/09/mari-mengenal-radio-tjap-roti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2011 05:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[mengenal radio roti]]></category>
		<category><![CDATA[radio bakelite]]></category>
		<category><![CDATA[radio philips kecil]]></category>
		<category><![CDATA[radio roti]]></category>
		<category><![CDATA[reparasi radio roti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[  Di kalangan penggemar radio antik dikenal satu istilah yang populer yakni &#8221;Radio Roti&#8221;, sebuah radio berukuran kecil terbuat dari kotak plastik keras yang tahan panas. Julukan roti itu sendiri barangkali muncul karena bentuknya yang sekilas mirip sebungkah roti tawar.  Sudut-sudutnya yang  tumpul mengesankan bentuk yang lembut, klasik, tidak kaku. Mirip roti tawar. Istilah roti ini semula untuk memudahkan orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=82&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/bakelite-radio.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-235" title="bakelite radio" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/bakelite-radio.jpg?w=614&#038;h=411" alt="" width="614" height="411" /></a></p>
<p>Di kalangan penggemar radio antik dikenal satu istilah yang populer yakni &#8221;Radio Roti&#8221;, sebuah radio berukuran kecil terbuat dari kotak plastik keras yang tahan panas. Julukan roti itu sendiri barangkali muncul karena bentuknya yang sekilas mirip sebungkah roti tawar.  Sudut-sudutnya yang  tumpul mengesankan bentuk yang lembut, klasik, tidak kaku. Mirip roti tawar.</p>
<p>Istilah roti ini semula untuk memudahkan orang menyebut radio-radio Philips berukuran kecil yang terbuat dari bakelite. Karena Philips mengeluarkan beberapa seri yang nyaris sama bentuknya dan tidak semua orang hafal tipenya maka orang kemudian memberi istilah sama untuk semua radio tersebut. </p>
<p>Padahal sebenarnya produsen lain juga memproduksi radio sejenis semisal Bush dari Inggris, lalu Braun dari Jerman, termasuk juga Erres, NSF yang menggunakan lisensi  Philips. Di Amerika radio radio kecil (midget radio) seperti itu malah banyak diproduksi ketimbang di negara lainnya. Belakangan orang akhinya menamai semua radio-radio kecil bakelite dengan nama sama, tak peduli merknya. Misal radio roti Inggris, radio roti Amerika. Meski demikian nama &#8220;radio roti&#8221; di kalangan masyarakat masih melekat ke radio buatan Philips.</p>
<p><strong>Radio Penanda Jaman</strong><br />
Pada tahun &#8217;50an Philips mengeluarkan lini baru radio, yakni radio kecil dengan bahan kotak bakelite dan menggunakan 5 tabung di dalamnya.  Kemunculannya dimungkinkan oleh kehadiran teknologi baru tabung tipe U atau Universal yang dirilis akhir &#8217;40an.</p>
<p>Dengan tabung baru tersebut radio mampu bekerja di AC maupun DC, dan yang terutama adalah <em>tidak membutuhkan trafo power supply</em> di dalamnya. Radio dengan sendirinya dapat dibuat lebih kecil, ringan, dan murah.  Tak heran jika radio roti amat populer di kalangan masyarakat kala itu. Bahkan hingga sekarang pun radio roti bekas masih melimpah dibanding jenis lainnya.</p>
<p>Kehadiran radio roti juga menandai era asembling lokal produk-produk Belanda di Indonesia. Jika sebelumnya N.V Philips hanya berperan sebagai agen sales maka sejak 1947 beralih ke pabrik perakitan produk produknya seperti lampu, radio, dan alat rumah tangga lainnya. Philips pun menambah kode baru dalam penomeran seri produknya yakni <strong>IN</strong>,  untuk <strong>IN<em>donesia</em></strong>, jika sebelumnya adalah X yang berarti rakitan Belanda-Belgia. Maka mulailah beredar radio dengan seri B-IN sebagai kode baru radio table top yang dirakit di Indonesia (lihat pengidentifikasiannya <a href="http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/mengidentifikasi-radio-philips/">di sini</a>)</p>
<p>Menurut buku <em>Pedoman Service 25 Radio Indonesia</em> yang dikeluarkan oleh PN Ralin 1961 terdapat 10 jenis radio roti rakitan lokal yakni seri <a href="http://www.xs4all.nl/~marnette/radioindonesie/indischeradio/bin115u.htm">BIN 115U</a>, BIN186U, <a href="http://www.xs4all.nl/~marnette/radioindonesie/indischeradio/bin197u.htm">BIN197U</a>, BIN206U,BIN236U, <a href="http://www.xs4all.nl/~marnette/radioindonesie/indischeradio/BIN318U.htm">BIN318U</a>, BIN326U,BIN 336U, <a href="http://www.xs4all.nl/~marnette/radioindonesie/indischeradio/BIN338U.htm">BIN338U</a>, B3IN667U. Semuanya terbuat dari casing bakelite. Kotak dan spare part didatangkan dari Belanda lalu dirangkai menjadi satu di perakitan Bandung.</p>
<p>Spek radio disesuaikan kondisi pasar Indonesia (tropen) saat itu yaitu hanya menangkap gelombang SW, catu daya tunggal 110V, dan koreksi nomer seri.  Semisal radio Cacah Gori yang di Belanda BX200U menjadi BIN206U,  lalu BX300U menjadi BIN318U, dan seterusnya.</p>
<p>Belakangan beberapa tipe radio roti juga dibuat versi kayunya, semisal di tipe BIN318U dan BIN238U berbahan kayu. Agaknya Philips harus berimprovisasi untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi dengan bahan lokal ketimbang menunggu kiriman kotak bakelite dari Belanda.   </p>
<p><strong>Mungil dan Berbahaya</strong><br />
Bentuknya yang mungil, mengkilat, dan terlihat &#8220;retro&#8221; menjadikan radio roti banyak dijadikan pajangan di rumah-rumah atau kafe. Apalagi ukurannya yang kompak memudahkan ditata menyatu dengan interior masa kini yang minimalis. Tapi siapa sangka dibalik bentuknya yang lucu tersimpan potensi bahaya.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mulus.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-236" title="mulus" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mulus.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" /></a>   <a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/erres-ky513.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-237" title="Erres KY513" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/erres-ky513.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>   <a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/bin318u.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-238" title="BIN318U" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/bin318u.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Mirip sebuah lampu pijar maka agar dapat  &#8220;menyala&#8221;  tabung harus diberi tegangan filamennya. Biasanya menggunakan tegangan AC 6.3V yang diperoleh dari trafo power supply dalam radio.  Sebaliknya pada radio roti, filamen diperoleh langsung dari listrik PLN tanpa melalui trafo. Caranya adalah dengan merangkai secara seri (sambung berderet)  filamen sehingga total tegangannya sama atau mendekati sumber dayanya, misal 110, 220, atau 240V.</p>
<p>Biasanya dalam radio Philips terdapat 5 tabung  dengan filamen <strong>14V</strong> (UCH42), <strong>12.6V</strong> (UF41), <strong>14V</strong> (UBC41), <strong>45V</strong> (UL41) dan <strong>31V </strong>(UY41). Bila kita jumlah voltasenya maka diperoleh angka <strong>116.6V</strong>, mendekati tegangan AC 110V yang dipakai saat itu.  Karena menggunakan tegangan jala jala langsung dari sumbernya maka terdapat potensi mematikan dari radio jenis ini. Perhatikan dibawah:</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/07012011362.jpg"></a></p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mesin-bin.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-245" title="mesin bin" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mesin-bin.jpg?w=300&#038;h=208" alt="" width="300" height="208" /></a></p>
<p>Di atas adalah mesin radio roti Philips setelah dilepas dari kotak. Ada lima tabung yang terpasang dalam soket menyatu dengan rangka metal mesin sebagai ground.</p>
<p>Aliran positif (+)  listrik PLN akan langsung masuk ke filamen tabung yang diseri dan negatif  (-) menuju ground/rangka mesin. Pada kondisi ini tidak ada bahaya yang muncul. Sebaliknya jika polaritasnya terbalik maka tegangan positif akan mengalir ke rangka mesin. Radio tetap akan berfungsi tetapi semua kontak ke rangka bisa menimbulkan bahaya sengatan listrik, termasuk jika kita memegang lubang antenanya!  </p>
<p>Tegangan 110V barangkali tak terlalu berbahaya karena sekarang selalu diperoleh dari trafo step down, tetapi ada beberapa menggunakan 220V terutama yang diimpor dari Eropa. Jenis seperti ini harus lebih diwaspadai ketimbang lainnya. Saya memiliki <a href="http://www.radiomuseum.org/r/philips_b3g75u_b_3_g_75.html">model B3G75U </a>yang menggunakan tegangan 220V langsung dari PLN untuk menyalakan filamennya. Jika terbalik memasang colokan dan tak sengaja menyentuh antena maka&#8230;..wah bisa dramatis ceritanya&#8230;.</p>
<p>Cara mengatasinya sederhana saja yakni dengan menandai polaritas yang benar pada colokan. Jika tespen tidak menyala maka colokan berada pada posisi yang benar dan tinggal diberi tanda (+) atau tulisan ATAS. Karena itu berhati hatilah sebelum menyalakan, terutama jika knob-knob depannya hilang. Radio seharusnya menghibur bukan mengundang malapetaka.</p>
<p><strong>Kerusakan</strong><br />
Kebanyakan radio roti dibuat tahun &#8217;50an. Selama puluhan tahun komponennya terpapar radiasi panas tabung. Apalagi kotaknya yang kecil membuat panas lebih cepat mengumpul. Jika radio kita nyalakan dalam 20-30 menit maka semua bagian kotaknya terasa panas, terutama di kanan belakang tempat UL41 dan UY41 menancap. Tak heran jika komponennya bisa molor nilainya atau rusak karena panas.</p>
<p>Kerusakan yang umum adalah filamen perata UY41 yang putus, cairan Elco mengering, OT putus, dial lamp mati karena putus filamen atau putus R droppernya, tabung yang aus akibat sering dinyalakan, dengung karena hum dan osilasi akibat kapasitor yang drop, dan kerusakan karena karat.</p>
<p>Kerusakan terparah bila karat (oksidasi) menyerang MFT (medium frequency transformer). Selain mustahil mencari penggantinya kecuali dari kanibal radio sejenis, gejalanya juga membuat frustasi yakni radio menyala dengan semua parameter yang normal tetapi tidak bisa menangkap siaran. Karat juga menyerang koil-koil penerima gelombang sehingga radio tidak bisa menangkap siaran samasekali kecuali bunyi mendesis di speaker.</p>
<p><strong>Perawatan</strong><br />
Bahan bakelite tidak memerlukan perawaran yang rumit. Cukup dilap berkali-kali dengan kain halus maka permukaannya akan kembali bersinar. Jika diinginkan dapat menggunakan silicon spray seperti yang biasa digunakan pada sepeda motor.</p>
<p>Hanya saja jangan pernah mencuci bakelite dengan deterjen  atau sabun yang kuat, akan meninggalkan belang. Gunakan saja shampo atau sabun pencuci produk bayi yang lembut atau air saja. Kemudian angin anginkan. Setelah kering lap permukaannya berkali-kali dengan kain halus hingga terlihat mengkilap kembali.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/knob.jpg"></a> <a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/switch.jpg"><img class="size-medium wp-image-240 aligncenter" title="switch" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/switch.jpg?w=277&#038;h=180" alt="" width="277" height="180" /></a></p>
<p>Untuk bagian elektronik perawatannya sama seperti yang <a href="http://radiotabung.wordpress.com/2010/11/02/merawat-radio-tabung/">diuraikan di sini. </a>Jika memungkinkan lakukan &#8220;turun mesin&#8221; setidaknya sekali ketika pertama radio dimiliki. Caranya dengan <em>re-capping</em> atau mengganti semua kapasitor tar hitam dengan yang baru, mengganti Elco dengan sepasang yang baru, mengganti C kopling di bagian final, dan mengganti R dropper dial lamp. Komponen lain seperti kapasitor keramik dan resistor relatif tangguh sehingga dapat diabaikan kecuali jika perlu.</p>
<p>Radio sebagaimana barang elektronik antik lainnya akan memberikan fungsinya yang maksimal jika kita rajin merawat dan memeliharanya. Karena itu jangan biarkan radio sekedar menjadi barang mati belaka, fungsikan dan terus dirawat niscaya masa kerjanya dapat bertahan lebih lama. Selamat bernostalgia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=82&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2011/01/09/mari-mengenal-radio-tjap-roti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/bakelite-radio.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bakelite radio</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mulus.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">mulus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/erres-ky513.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Erres KY513</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/bin318u.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">BIN318U</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mesin-bin.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mesin bin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/switch.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">switch</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Philips BX505A-11 : spesialis penangkap SW</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2011/01/01/philips-bx505a-11-spesialis-penangkap-sw/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2011/01/01/philips-bx505a-11-spesialis-penangkap-sw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 15:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[philips bx505a-11]]></category>
		<category><![CDATA[radio tabung]]></category>
		<category><![CDATA[radio tabung sw]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[  Pada akhir &#8217;40an Philips mengeluarkan beberapa seri radio  yang ditujukan untuk menangkap gelombang SW dengan lebih baik. Sasarannya adalah masyarakat yang gemar ber DX (menangkap siaran jarak jauh) dan para ekspatriat Eropa yang tersebar di daerah koloni Asia. Sebelumnya kebanyakan radio Philips memiliki 3-4 gelombang saja yakni 1 MW dan 2-3 sisanya adalah SW. Tetapi pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=175&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/BX505A-11"></a></p>
<p style="text-align:center;"> <a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/dsc_05603.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-216" title="DSC_0560" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/dsc_05603.jpg?w=1024&#038;h=685" alt="" width="1024" height="685" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Pada akhir &#8217;40an Philips mengeluarkan beberapa seri radio  yang ditujukan untuk menangkap gelombang SW dengan lebih baik. Sasarannya adalah masyarakat yang gemar ber DX (menangkap siaran jarak jauh) dan para ekspatriat Eropa yang tersebar di daerah koloni Asia.</p>
<p style="text-align:left;">Sebelumnya kebanyakan radio Philips memiliki 3-4 gelombang saja yakni 1 MW dan 2-3 sisanya adalah SW. Tetapi pada tipe terbaru ini gelombang SW dipecah (spread) hingga 5 band dan tangkapan tertingi mencapai 11m (yang nyaris mendekati 27 Mhz, daerah siaran CB). Dapat dibayangkan sebagai perbandingan antara penggaris 100cm yang dibagi hingga cm dan mm. Tentu yang memiliki ukuran mm mampu mengukur panjang lebih teliti ketimbang yang cm saja. Dengan membagi  menjadi beberapa band maka radio akan menangkap lebih banyak siaran.</p>
<p>Radio radio tersebut memiliki rangkaian mesin yang nyaris sama, hanya dibedakan oleh casing dan asesoris seperti mata kucing dan sumber dayanya. Tentu saja harganya berbeda yang terlihat dari penomeran klasnya. Radio tersebut antara lain BX480A, BX591A, BX594A, BX505A, dan BX690A. Radio yang saya miliki adalah BX505A-11.</p>
<p>Radio saya peroleh dalam keadaan &#8220;setengah hidup&#8221;,  menyala tapi kualitasnya buruk: mendengung (hum), gemerotak, menggerang, dan buruk kualitas penerimaannya. Radio ini aslinya memiliki 2 tone warna, tapi entah aus atau diamplas akhirnya tersisa warna dasarnya saja, hitam mengkilat. Kerangka papan gelombangnya mengingatkan saya pada radio Gatotkoco yang tersohor itu. Sayangnya sudah aus dan retak di tengah.</p>
<p>Komponen yang terlihat tidak asli adalah power transformer dan audio. Perata AZ1 sudah hilang beserta soketnya digantikan sepasang dioda 1N4007. Saya sempat keheranan kenapa line up tabungnya tidak lazim yakni penggabungan tabung tipe Locktal dan Rimlock. Biasanya radio menggunakan tabung sejenis dalam satu setnya.</p>
<p>Dengan segera saya unduh skemanya di <a href="http://www.radiotechniek.nl">www.radiotechniek.nl</a> dan saya semakin terheran-heran karena aslinya tipe ini memiliki tabung rimlock (2x EAF42), locktal (ECH21, EBL21), side contact (AZ1, biasa disebut kaki bebek) dan octal (EM35 mata kucing).1 radio 4 jenis soket! Skema yang saya gunakan adalah milik BX594A karena lebih mirip ketimbang BX505AV yang tersedia di situs tersebut.</p>
<p><strong>Reparasi</strong><br />
Untungnya radio ini memiliki mesin ala &#8217;30-40an yang koil dan wiringnya besar-besar semua, tidak ruwet rumit seperti era &#8217;50an. Ukuran besar dan terbuka memudahkan ketika mereparasi dan menambah daya tahan komponen itu sendiri.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-192" title="wiring dan part" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-01012011339.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/inner side.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-193" title="inner side" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-dsc_0594.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Karena OT sudah diganti dengan yang biasa, yakni hanya 2 tap pada sekundernya, maka rangkaian tone dalam radio ini menjadi percuma. OT yang asli memiliki beberapa tap pada sekunder  untuk <a href="http://www.vintage-radio.com/repair-restore-information/valve_output-stages.html">feedback kontrol nada</a>. Tanpa tap feedback maka tone tidak bisa bekerja maksimal.</p>
<p>Akhirnya sekalian saja rangkaian tone yang njlimet itu saya buang semua, lalu OT saya ganti lagi  dengan copotan dari radio Jerman cap &#8216;Tonfunk&#8217;. Saking semangatnya mempreteli komponen akhirnya beberapa bagian vital ikut terbuang yang baru belakangan saya sadari.</p>
<p>Setelah bersih lalu bagian amplifier saya rakit ulang mengikuti skema aslinya. Untuk menambah gain saya tambahkan lagi R dan Elco di katode EBL21. Tidak lupa C tone correction pada anoda dan groundnya.</p>
<p>Hampir semua C bawaan radio,terutama yang tar hitam,  saya buang. Pengalaman memperlihatkan kapasitor tar hitam sangat rentan bocor meski normal ketika diukur. Termasuk juga sepasang Elco powersupply saya ganti dengan yang baru.</p>
<p>Mata kucing EM35  yang terlihat redup tak bergerak-gerak saya ganti R nya lebih kecil dari standar 1M ke 47k agar tegangan anode naik sehingga fosofor hijau di dalam dapat kembali berpijar. Sensitivita penerimaan saya tingkatkan dengan menambah C bypass 47pF pada MFTnya. Selesai. </p>
<p>Radio kemudian saya nyalakan. Perlahan tabung EBL21 memerah filamennya diikuti tabung lainnya. Dari speaker 20cm terdengar suara siaran diantara gemeratak, menggerang, dan dengungan. Ternyata masih tidak beres meski sudah menangkap gelombang. Langkah pertama adalah mematikan semua saklar lampu di rumah, termasuk charger, TV, dan dispenser air. Ternyata tetap saja, masih menggerang seperti efek lampu rumah yang dinyalakan.</p>
<p>Dugaan awal adalah kebocoran kapasitor, tapi semua sudah saya ganti dengan baru masak masih bocor juga RFnya? Radio tetap menggerang meski volume sudah minimal. Dugaan berikut adalah tabungnya. Tapi tidak ada perubahan meski sudah diganti semua. Kemungkinan berikut adalah perakitan amplifier yang buruk.</p>
<p>Akhirnya amplifier saya tata ulang dan rapikan lagi mengikuti skema aslinya. Pada saat merunut skema baru saya sadari ada bagian yang hilang, yakni beberapa R dan Elco di dekat powersupply. Semula saya mengira sebagai bagian tone karena berada di lokasi yang sama sehingga ikut saya buang.</p>
<p>Rangkaian kecil tersebut lumayan membingungkan karena tidak jelas apa maksudnya. Jika dilihat sepintas mirip filter bypass ke ground tetapi kenapa ada Elco yang kaki positifnya digroundkan? Setelah cukup lama gugling akhirnya saya menemukan penjelasan teknisnya  <a href="http://people.cs.uu.nl/gerard/FotoAlbum/RadioCorner/Sets/Phil594b.htm">di artikel Gerard Corner.</a></p>
<p>Umumnya negatif bias diperoleh langsung dari NEGATIF (-) yang dihubungkan ke chasis menjadi ground. Tetapi dalam radio ini Philips menyaring dan menghaluskan NEGATIF sebelum dialirkan ke seluruh bagian rangkaian dengan pasangan resistor (pada skema adalah R5 dan R6) dan dihaluskan oleh C3. Lihat skema di bawah:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-594a1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-183" title="perata bias" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-594a1.jpg?w=298&#038;h=300" alt="" width="298" height="300" /></a></p>
<p>Bias untuk tabung frequensi tinggi diambil dari rangkaian ini. Termasuk pula AVC dan bagian pre amp. Jika salah satu komponen tersebut rusak atau hilang (umumnya karena elco yang kering) maka arus frekuensi tinggi dari tabung akan mengalir ke ground menghasilkan osilasi atau kata orang suara <em>brengengeng</em> (weleehh..)</p>
<p>Akhirnya pasangan perata tersebut saya pasang kembali lalu kembali colokkan listrik dan&#8230;&#8230;..voilaa&#8230;akhirnya suara osilasi hilang! Tidak ada lagi suara <em>ngreengggg </em>mengganggu, tinggal hum halus yang menurut saya tidak terlalu mengganggu. Seperti tidak percaya lalu R dan C saya putus sementara, eh bener juga, muncul suara <em>ngeeenngggg</em> yang kencang.</p>
<p><strong>Philips dan perkembangan radio</strong><br />
Meskipun didisain untuk ber DX menurut saya seri BX505A dan sejenisnya bukanlah real DX tuner. Philips hanya membagi lebar gelombang lebih banyak dari biasanya yang hanya 3. Semestinya jika mau serius ber DX (dengan cara paling murah) adalah dengan menambah 1 tabung lagi untuk RF (seperti pada radio BX376A atau Kompas) dan fine tuning. Cara lain banyak tapi tentu ruwet dan mahal.</p>
<p>Mungkin sekedar gimmick untuk meraih pasar atau mungkin juga karena alasan teknis seperti <a href="http://people.cs.uu.nl/gerard/FotoAlbum/RadioCorner/kortegolf.htm">yang dijelaskan Gerard Corner</a> : pada saat radio ini diluncurkan tahun &#8217;50an matahari sedang mengalami sun spot terbanyak. Sun spot berpengaruh besar pada propagasi sinyal SW yakni semakin banyak sun spot semakin mudah siaran SW diterima. Siaran pemancar di daerah terpencil pun akan mudah diterima. Tanpa menggunakan RF amplifier pun siaran SW akan mudah tertangkap.</p>
<p>Sayangnya kondisi tersebut tidak selalu ada sehingga mendengarkan siaran dengan radio yang sama tidak akan semudah pada jamannya dulu.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-dsc_0562.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-186" title="mini-DSC_0562" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-dsc_0562.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Tangkapan radio ini sendiri menurut saya cukup memuaskan. Gelombang MW diterima penuh, bahkan kadang radio Vietnam ikut tertangkap. Gelombang SWnya tertangkap di semua band dengan hanya antena sepanjang 2m. Ketika tombol tuning diputar dengan cepat akan terdengar suara <em>glug glug glug</em> karena perpindahan cepat dari pemancar satu ke lain pertanda radio mampu menangkap banyak siaran.</p>
<p>Saat memutar gelombang jemari terasa ringan karena di bagian dalam batang tuning terpasang semacam roda besi besar yang membantu gerakan memutar. Terkadang jika knob tuning kita putar cepat maka dial<br />
meter akan bergerak sendiri akibat daya dorong roda besi. Orang barat bilangnya <em>flying wheel tuning</em>.</p>
<p>Suaranya? Wehh..persis gambaran orang tentang radio tabung: ngebas dalem. Radio ini masih menggunakan speaker aslinya yang acap disebut &#8220;paku tiga&#8221;, speaker berdiameter 20cm yang dibungkus kain (entah buat apa). Mungkin juga karena efek resonansi casingnya yang cukup besar sehingga tersedia cukup ruang besar di dalam untuk memantul.</p>
<p>Radio Philips kembali memberi saya pelajaran berharga. Dulu saya sempat kebingungan melihat radio tanpa OT, ternyata memang Philips mendisainnya transformeless di radio Bi Ampli dengan mengganti speaker 800ohm, kemudian disain loudness Philips berupa penambahan tapping pada potensiometer, lalu peningkatan audio dengan tambahan tapping di OT. Dan kali ini adalah menghaluskan negatif bias melalui R dan C. Barangkali besok saya akan menemukan hal baru lagi. Masih banyak bangkai menanti untuk dipelajari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=175&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2011/01/01/philips-bx505a-11-spesialis-penangkap-sw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/dsc_05603.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0560</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-01012011339.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">wiring dan part</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-dsc_0594.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">inner side</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-594a1.jpg?w=298" medium="image">
			<media:title type="html">perata bias</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2011/01/mini-dsc_0562.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mini-DSC_0562</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merawat Radio Tabung</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/11/02/merawat-radio-tabung/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/11/02/merawat-radio-tabung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 05:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[merawat radio kuno]]></category>
		<category><![CDATA[merawat radio tabung]]></category>
		<category><![CDATA[radio tabung tetap awet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Lazimnya barang antik maka radio tabung harus kita rawat dan pelihara agar terus berfungsi atau tetap terjaga keindahannya. Radio yang umumnya buatan 1940-50an tentu saja rentan kerusakan dan mencari spare partnya hampir mustahil kecuali mengkanibal atau pesan dari toko online luar negeri. Mahal tentunya. Berikut beberapa kiat sederhana agar radio yang masih menyala tetap awet [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=151&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lazimnya barang antik maka radio tabung harus kita rawat dan pelihara agar terus berfungsi atau tetap terjaga keindahannya. Radio yang umumnya buatan 1940-50an tentu saja rentan kerusakan dan mencari spare partnya hampir mustahil kecuali mengkanibal atau pesan dari toko online luar negeri. Mahal tentunya.</p>
<p>Berikut beberapa kiat sederhana agar radio yang masih menyala tetap awet :</p>
<p><strong>1. Jaga temperatur radio dan lingkungan sekitarnya</strong><br />
Saat dibuat pada jamannya dulu, radio tabung&#8211;IMHO&#8211;tidak didisain untuk mendengarkan siaran 24 jam. Dahulu stasiun radio mungkin siaran 10 jam per hari atau malah mungkin kurang. Agaknya panas belum menjadi isu kala itu. Setelah sekian tahun dinyalakan panas dapat berdampak ke komponen pendukung seperti Resistor, Capacitor, koil, dan transformernya.</p>
<p>Jangan memaksa radio untuk menyala dalam jangan waktu lama, semisal lebih dari 4 jam. Panas berisiko merusak komponen uzur di dalamnya. Apalagi radio roti yang memiliki ruang ventilasi dalam yang sempit. Demikian pula untuk radio yang lebih besar, perlakukan hal sama. Ingat mereka adalah barang tua dengan teknologi kuno yang lebih rapuh.</p>
<p>Khusus Indonesia kondisinya diperparah dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Untuk meminimalisir maka perhatikan peletakan radio, jangan sampai tutup belakangnya yang berlubang-lubang terhalang/tertutupi benda lain semisal mepet ke tembok.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/jarak-secukupnya2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-162" title="jarak secukupnya" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/jarak-secukupnya2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Sediakan cukup ruang untuk bernafas. Hindari kelembaban dengan tidak menaruh di luar ruangan yang berpotensi kena sinar matahari langsung dan lembab hujan/cuaca luar. Hindari radio berdebu atau menjadi sarang laba2 bagian dalamnya. Alasan utamanya adalah agar koil dalam radio tidak rusak/berkarat. Jika koil terutama koil IFT berkarat radio akan mati atau tidak menerima siaran samasekali.</p>
<p>Jika ingin menyimpan dalam jangka waktu lama ada baiknya radio dibungkus plastik rapat dan masukkan kardus. Hindari kardus dari kelembaban dengan tidak menaruh di lantai atau dinding apalagi sampai terpapar basah. Beberapa radio yang saya simpan dalam kardus 2 tahun kemudian mati karena berkarat. Ternyata bagian bawahnya lembab sehingga menghancurkan semua isinya. Karat juga dapat diminimalisir dengan menyemprotkan WD40 ke dalam chasis mesin sebelum disimpan.</p>
<p><strong>2. Rutin dinyalakan</strong><br />
Pastikan radio DINYALAKAN SECARA TERATUR, bukan didiamkan begitu saja bertahun-tahun layaknya benda mati. Tetapi jangan pula berlebihan semisal dipaksa nonstop 24 jam, cukup 2-3jam/hari atau terserah, yang penting radio diaktifkan secara teratur.</p>
<p>Banyak kasus radio dibeli kondisi hidup lalu mati gara-gara tidak pernah diaktifkan. Entah apa penyebabnya saya sendiri tidak bisa memastikan.  </p>
<p>Sebelum dinyalakan perhatikan rating radionya. Semua radio roti dirancang untuk bekerja di 110-127V, sementara radio table top umumnya di 220V. <em>Jangan pernah mencolokkan radio roti langsung ke 220V, tabung dapat meledak karena kelebihan tegangan</em>.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/rating-yang-tepat1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-163" title="rating yang tepat" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/rating-yang-tepat1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Beberapa radio roti terutama dari Inggris dapat dinyalakan dengan 220V karena memiliki resistor penurun tegangan (R dropper). Cek bagian belakang kanan atas kabel, pada radio table top biasanya terdapat voltage selector. Pastikan berada di rating yang tepat.</p>
<p><strong>3. Jangan perlakukan kasar</strong><br />
Jangan perlakukan radio seperti perangkat modern yang bisa kita nyala matikan-nyala matikan tanpa khawatir merusak. Radio tabung setidaknya membutuhkan 10-20 detik agar listrik terkumpul di elco perata dan menyalakan filamen tabung.</p>
<p>Jika radio belum penuh bersuara LALU DIMATIKAN DAN LANGSUNG DINYALAKAN LAGI maka arus listrik akan balik menghantam filamen perata di bagian belakang. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka tabung perata tewas dengan sukses. Ini merupakan penyakit yang umum pada RADIO ROTI yang tidak memiliki tranformer.</p>
<p>Kalaupun radio memiliki transformer dan menggunakan perata silicon&#8211;umumnya ada di radio Jerman seperti Telefunken, AEG, Siegfred, Grundig&#8211;resiko kerusakan adalah pada tabung final alias amplifier seperti EL84, EL42.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/tuts-knob-saklar1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-164" title="Tuts, knob, saklar" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/tuts-knob-saklar1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Ini juga berlaku untuk knob gelombang (dial tuning) dan saklar-saklar yang ada termasuk pengatur volume. Saklar tekan (tuts), saklar putar, saklar tarik, semuanya adalah perangkat mekanik yang berisiko rusak seiring waktu dan pemakaian. Oleh karena itu perlakukan secara hati-hati semua bagian mekanik tersebut. Jika dimungkinkan semprot contact cleaner, termasuk kedalam potensiometernya.</p>
<p>Jika ingin lebih ekstrem saat menyala matikan radio cukup langsung tarik/colok kabel listriknya, tidak dengan tuts atau knob putarnya. Meski terlihat berlebihan hal  ini dapat mengurangi resiko kerusakan mekanis.</p>
<p><strong>4.Serahkan ke achlinja</strong><br />
Jika setelah 1 menit lebih radio dinyalakan tidak mengeluarkan suara, bahkan desis sekalipun di speaker, matikan segera radio. Kemungkinan besar ada tegangan yang tidak masuk di bagian tertentu. Biasanya pemilik awam akan terus menyalakan radio hanya karena pilot lamp di glass scale atau tabung terlihat menyala. Padahal itu tidak ada hubungannya dengan kerusakan, radio dapat terus menyala semua lampu dan tabungnya meski tidak berbunyi.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/achlinja.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-165" title="Achlinja" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/achlinja.jpg?w=195&#038;h=300" alt="" width="195" height="300" /></a></p>
<p>Jika dibiarkan terus transformer audio (OT) akan terbebani dan berisiko putus. Oleh karena itu jika menemukan gejala di atas jangan tjoba perbaiki sendiri pesawat tuan, serahkan ke achlinja&#8230;.</p>
<p>Adakalanya kerusakan hanya intermiten belaka, lalu layaknya dalam film-film radio digebrak, dipukul berkali kali. Jika beruntung mungkin akan menyala, tetapi berapa banyak keberuntungan kita miliki? Jangan tunda, segera reparasi untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.</p>
<p>Selamat bernostalgia!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=151&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/11/02/merawat-radio-tabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/jarak-secukupnya2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jarak secukupnya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/rating-yang-tepat1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rating yang tepat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/tuts-knob-saklar1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tuts, knob, saklar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/11/achlinja.jpg?w=195" medium="image">
			<media:title type="html">Achlinja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Radio roti Bush DAC90A versi ekspor</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/31/radio-roti-bush-dac90a-versi-ekspor/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/31/radio-roti-bush-dac90a-versi-ekspor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 15:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[DAC90A export version]]></category>
		<category><![CDATA[radio bakelite bush]]></category>
		<category><![CDATA[radio bush dac90a]]></category>
		<category><![CDATA[radio bush inggris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Pasca PD II Indonesia mulai dibanjiri consumer goods dari negara-negara Eropa dan Amerika. Termasuk diantaranya adalah radio. Jika sebelumnya Philips begitu mendominasi pasar maka merk seperti Telefunken, AEG, Tonfunk,Braun, Bush, Emerson, Ferguson, Philco, Hallicrafter, dan lain-lain perlahan beredar mengisi celah pasar yang ada. Umumnya produk tersebut diimpor langsung dari negara asalnya. Sejauh ini hanya Telefunken [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=106&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/bush-dac90a.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-144" title="bush dac90a" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/bush-dac90a.jpg?w=1024&#038;h=684" alt="" width="1024" height="684" /></a><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/dac90a.jpg"></a></p>
<p>Pasca PD II Indonesia mulai dibanjiri consumer goods dari negara-negara Eropa dan Amerika. Termasuk diantaranya adalah radio. Jika sebelumnya Philips begitu mendominasi pasar maka merk seperti Telefunken, AEG, Tonfunk,Braun, Bush, Emerson, Ferguson, Philco, Hallicrafter, dan lain-lain perlahan beredar mengisi celah pasar yang ada. Umumnya produk tersebut diimpor langsung dari negara asalnya. Sejauh ini hanya Telefunken yang saya ketahui dirakit di Semarang.</p>
<p>Salah satu merk yang diimpor adalah Bush dari Inggris. Meski terhitung pemain besar di Inggris merk ini kalah jumlah dengan Telefunken, apalagi Philips. Terlihat dari sedikitnya kolektor saat ini yang memiliki radio Bush. Mungkin importir Bush hanya memasukkan sedikit radio atau mungkin juga kalah dengan Philips yang memiliki pabrik perakitan di Indonesia. Yang jelas produk Bush tidak banyak beredar di Indonesia.</p>
<p>Dari sedikit jumlah tersebut ada satu seri Bush yang sangat dicari yakni DAC90A. Secara fisik radio ini termasuk radio roti karena berukuran kecil, menggunakan tabung U,  dan terbuat dari Bakelite. Yang membedakan adalah DAC90A memiliki gelombang AM bukan SW layaknya radio roti Belanda. Biasanya orang malas mendengarkan gelombang SW yang umumnya news radio, sebaliknya gelombang AM memberikan banyak alternatif karena hingga sekarang masih banyak stasiun radio komersil di gelombang tersebut.</p>
<p>Tipe ini mulai diproduksi Februari 1950 hingga 1957. Perjalanan siklus hidupnya dapat dilacak dari perkembangan disain knob depan, model awal lingkaran dengan rib, berikutnya dengan penambahan tulisan tone dan volume pada knob, dan terakhir penambahan lingkaran warna emas pada knob. Koleksi yang saya miliki merupakan radio versi awal yang dicirikan oleh rib pada knob depannya.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/tuning.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-140" title="tuning" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/tuning.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Saya mendapatkan radio dalam kondisi mati, kehilangan beberapa komponen, penutup belakang, dan kabel listriknya. Cukup menyedihkan, tetapi demi sebuah koleksi bernilai tinggi saya tetap membelinya. Sisanya masih bertahan baik seperti penutup speaker dari kuningan dan kaca gelombang yang utuh. Bahkan casing bakelitenya terlihat mulus tanpa banyak goresan.</p>
<p>Meski sesaudara dengan radio BIN ukurannya sedikit lebih besar. Bahkan terasa berat karena casing mesin dan bagian mekanis dalamnya terbuat dari besi tebal.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/internal.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-141" title="internal" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/internal.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p><strong>Reparasi</strong><br />
Seperti radio roti lainnya terdapat 5 tabung di dalam yakni UCH42, UF41, UBC41, UL41, dan perata UY41. Radio didisain bekerja pada multi tegangan 110-220V. Tetapi berbeda dengan radio Belanda yang menggunakan R dropper sebagai voltage selector radio ini menggunakan trafo stepdown internal sebagai droppernya. Ini cukup aneh mengingat tujuan radio bertabung U sebenarnya untuk  menghindari trafo stepdown yang mahal. Radio ini malah menggunakannya sebagai voltage selector.</p>
<p>Pemeriksaan berikut memperlihatkan radio kehilangan trafo OT, speaker asli, dan pernah direparasi.</p>
<p>Untuk menghindari resiko saya mengganti elco perata dengan sepasang 47uF/350V yang baru, lalu kapasitor filter 0.01uF/350V di bagian final, penambahan elco 47uF/16V pada katoda UL41, dan bypass MFT dengan 100pF. Trafo OT saya ganti dengan kanibal radio BIN karena memiliki resistensi sama yakni 5000 ohm.</p>
<p>Jejak reparasi terlihat pada penggantian R yang mengalirkan tegangan tinggi (HT) ke MFT I. Setelah diukur ternyata masih memadai dan R saya biarkan di tempat.</p>
<p>Dari hasil gugling di internet terkait Bush DAC90A beberapa komponen baru saya tambahkan untuk meningkatkan kualitas suara.</p>
<p>Setelah semua terpasang lalu kabel saya colokkan. Perlahan tegangan tinggi mengalir ke elco power supply dan setelah 1 menit ternyata tetap tidak berbunyi. Tanpa pikir panjang semua tabung saya ganti dengan sejenis yang sehat, dan akhirnya terdengar suara penyiar di gelombang AM . Rupanya tabung UCH42 dan UF41 mengalami penurunan emisi hingga tidak berfungsi samasekali. Radio kemudian menyala secara penuh di tiga gelombangnya.</p>
<p><strong>Tipe Yang Unik</strong><br />
Bush DAC90A rupanya cukup populer di kalangan kolektor Inggris. Tersedia banyak informasi yang membantu terutama untuk reparasi. Ternyata DAC90A yang saya peroleh memiliki beberapa keunikan yang berbeda :<br />
&#8212;Mains dropper menggunakan trafo stepdown internal daripada R tubular.  Hal ini mengurangi panas ketika radio dihubungkan ke 220V. Sekedar informasi, jika menggunakan R tubular dan tegangan 220V maka R harus menurunkan (dropping) tegangan sebesar 103V yang berarti menimbulkan panas sebesar 10.3 watt. Bandingkan jika menggunakan trafo yang relatif lebih dingin.<br />
&#8212;Memiliki gelombang yang berbeda yakni AM SW daripada AM LW seperti di Inggris. Gelombang SW kemudian dibagi menjadi 2  sehingga total radio ini memiliki 3 pilihan gelombang.<br />
&#8212;Tidak memiliki koil antena internal yang besar. Sayangnya ini menjadi kelemahan utama. Tanpa gulungan besar tersebut radio menjadi kurang peka sehingga harus menggunakan antena luar yang panjang. Padahal aslinya di Inggris DAC90A memiliki koil antena besar internal yang membantu kepekaan penerimaan.  </p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/internal-stepdown-transformer.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-142" title="internal stepdown transformer" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/internal-stepdown-transformer.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/scale-glass.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-143" title="scale glass" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/scale-glass.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Dugaan saya radio ini merupakan DAC90A versi ekspor yang dikhususkan untuk pasar Asia yang memiliki banyak ekspatriat. Dengan gelombang SW tersebut warga Inggris dapat mendengarkan berita atau terhubung secara emosional ke negerinya melalui siaran radio.</p>
<p>Di pasaran barang antik radio roti yang memiliki gelombang AM memang lebih dihargai tinggi ketimbang SW saja. Selain Bush DAC90A ada lagi radio roti Erres KY5131 yang juga menangkap AM lalu Braun dari Jerman. Radio lainnya adalah dari Amerika yang kebanyakan hanya memiliki 1 gelombang AM saja semisal GE, Motorola, dan lain lain. Beruntung saya berhasil mendapatkan salah satu radio tersebut.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=106&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/31/radio-roti-bush-dac90a-versi-ekspor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/bush-dac90a.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">bush dac90a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/tuning.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tuning</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/internal.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">internal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/internal-stepdown-transformer.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">internal stepdown transformer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/scale-glass.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">scale glass</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Radio Philips BIN336U: Roti Kipas</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/31/radio-philips-bin336u-roti-kipas/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/31/radio-philips-bin336u-roti-kipas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 13:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[radio bin336u]]></category>
		<category><![CDATA[radio roti kipas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Saya mendapatkan radio ini sekitar 2004 lalu dengan harga cukup murah, Rp 200,000. Tipenya BIN336U atau biasa disebut kipas merah karena tutup speaker luarnya yang berbentuk kipas dengan kain merah di baliknya. Berdasar nomer tipenya maka seri ini dirilis tahun 1953. Beberapa komponen di dalamnya seperti speaker dan trafo OT memiliki cap tahun 1954. Di negara asalnya tipe ini diberi nomer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=99&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/tune-selector.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-125" style="display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;" title="Tune selector" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/tune-selector.jpg?w=614" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/volume-tone-selector.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-126" title="volume-tone selector" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/volume-tone-selector.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/colokan-asli.jpg"><img class="size-medium wp-image-134 aligncenter" title="colokan asli" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/colokan-asli.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Saya mendapatkan radio ini sekitar 2004 lalu dengan harga cukup murah, Rp 200,000. Tipenya BIN336U atau biasa disebut kipas merah karena tutup speaker luarnya yang berbentuk kipas dengan kain merah di baliknya. Berdasar nomer tipenya maka seri ini dirilis tahun 1953. Beberapa komponen di dalamnya seperti speaker dan trafo OT memiliki cap tahun 1954.</p>
<p>Di negara asalnya tipe ini diberi nomer BX230U. Pilihan gelombangnya berubah menjadi SW, MW, dan LW. Di bagian belakang terdapat pilihan input voltase untuk 110-220V. Meskipun memiliki fasilitas yang sama, yakni input untuk Phono dan pemilih nada, radio ini naik kelas setingkat ketika dirakit di Indonesia, yakni dari BX2 menjadi BIN3. Mungkin ini dimaksudkan sebagai strategi marketing Philips untuk menaikkan persepsi konsumen bahwa radio roti BIN memiliki kelas (baca: kualitas) yang tinggi seperti radio lainnya.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/31102010119.jpg"><img class="size-medium wp-image-127 aligncenter" title="Nomer tipe" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/31102010119.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Radio berukuran sekitar 295 x 190 x 165 mm dengan berat 2.5kg. Bekerja dalam gelombang SW dari 13,8 meter hingga 140 meter yang dipilih melalui 3 saklar putar. Line up tabungnya standar yakni UCH42, UF41, UBC41, UL41, dan perata UY42. Konsumsi dayanya mencapai 32 watt untuk tegangan 125V, tapi daya yang dikeluarkan hanya 2 watt saja.</p>
<p>Sebelum ini saya belum pernah menemukan radio dalam keadaan mulus dan orisinil. Apalagi dalam kondisinya menyala. Salah satu ciri radio yang orisinil alias belum diotak atik adalah skrup penutup belakang dan skrup mesin dalam masih menyatu disegel cat warna merah. Saat saya temukan cat merahnya masih utuh, samasekali belum rusak, yang menandakan radio ini belum pernah dibuka tutup belakangnya. Kalaupun dahulu pernah dicat ulang tentunya terlihat bekas yang menumpuk.Tapi yang ini benar-benar belum pernah dibuka atau cat ulang.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/rear-cover1.jpg"><img class="size-medium wp-image-128 aligncenter" title="Rear cover" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/rear-cover1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/segel-merah1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-135" title="segel merah" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/segel-merah1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Meskipun tampilan luarnya bagus penerimaannya terhitung buruk. Ketika saya tancapkan ke trafo stepdown terdengar suara mendengung keras pertanda elco peratanya yang bermasalah. Penerimaannya kurang maksimal, terdengar kurang sensitif dan tidak selektif. Tiba waktunya untuk dibongkar sebelum terlambat. Skrup penutup belakang saya buka dan rusaklah segel warna merahnya. Begitu terbuka terlihat bagian dalam yang utuh dan berdebu tebal. Barangkali kondisinya sama seperti puluhan tahun lalu di pabriknya, hanya menjadi berdebu dan berkarat beberapa bagian seiring waktu.</p>
<p><strong>Reparasi </strong>                                                                                                                                         Langkah pertama adalah mengganti tabung elco perata 47uf/350V dengan sepasang yang lebih baru dan ringkas. 2 elco disatukan bagian negatifnya dan ditempatkan di sela-sela bawah. Elco asli yang berbentuk tabung besi saya biarkan di tempatnya. Radio kemudian saya nyalakan dan suara dengung hilang samasekali. Suara dengung biasanya terjadi karena cairan minyak dalam elco yang mengering. Jika dibiarkan terus akhirnya elco akan mati sehingga tegangan tidak dapat masuk dan radio mati.</p>
<p>Dalam keadaan menyala saya periksa semua voltase untuk memastikan mencari kerusakan lainnya. Seperti biasa kapasitor filter di bagian final sudah sedikit terbuka yang dicirikan oleh adanya tegangan yang masuk ke g1 tabung UL41. Tinggal beli kapasitor 0.01uF/250 yang baru lalu buang yang lama. Kapasitor ini berfungsi untuk menyaring tegangan DC dari anode preamp UBC41 sebelum menuju g1 tabung final UL41. Tegangan diblok kemudian dibuang ke ground. Jika kapasitor bocor maka tegangan yang sangat kecil (biasanya positif 0.1-0.6V atau tergantung kondisi) terlihat mengalir di grid 1 UL41 saat diukur dengan multimeter. Tegangan positif tersebut akan membuat grid terbebani dan jika dibiarkan akan merusak tabung itu sendiri lalu merembet ke putusnya OT audio.</p>
<p>Kapasitor lain yang diganti adalah kapasitor penyaring tegangan jala-jala PLN. Fungsinya untuk menyaring tegangan PLN agar penerimaan terdengar lebih halus. Kapasitor yang rusak akan menghasilkan dengungan meskipun elco perata sudah diganti. Selain itu juga berpotensi menyalurkan tegangan (+) ke ground. Radio kemudian saya nyalakan dan diukur tegangan di beberapa titik. Sekarang lebih baik dari sebelumnya, tidak ada tegangan positif mengalir di tempat tempat yang tidak semestinya. Sayang radio masih kurang peka dan kurang keras, pertanda waktunya untuk memodifikasi.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin.jpg"><img class="size-medium wp-image-129 aligncenter" title="mesin" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin-dan-modifikasi.jpg"></a></p>
<p>Modifikasi pertama adalah menambah elco kecil, sekitar 47-100uF/16V di katode tabung UL41. Kaki positif masuk ke katode lalu negatif dibuang ke ground. Berikutnya adalah menambah kapasitor bypass di kaki P dan S masing-masing MFTnya. Nilainya cukup 56 -100pF. Cukup menambah dua komponen saja hasilnya sudah bagus. Dengan menggunakan kabel sepanjang 2 meter sebagai antena sekarang radio menjadi lebih keras dan banyak menerima siaran pemancar.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin-dan-modifikasi1.jpg"><img class="size-medium wp-image-131 aligncenter" title="mesin dan modifikasi" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin-dan-modifikasi1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/r-tubular.jpg"><img class="size-medium wp-image-132 aligncenter" title="R tubular" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/r-tubular.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Saya sebenarnya tergoda untuk mengganti R dropper. Resistor berbentuk hijau tubular itu berfungsi menurunkan tegangan 110 ke 19V untuk menyalakan lampu pilot di skala depan. Karena besarnya penurunan tegangan yang harus dilakukan resistor menjadi sangat panas, apalagi letaknya di atas tabung final dan perata yang celakanya juga menghasilkan panas paling tinggi. Tiga komponen inilah yang menjadi penyumbang panas radio terbesar. Biasanya dapat dirasakan dengan meraba bagian kiri belakang beberapa saat setelah radio dinyalakan.</p>
<p>R dropper biasanya menjadi komponen yang paling sering mati karena layout penempatannya. Satu-satunya cara adalah mengganti dengan komponen yang lebih &#8220;dingin&#8221; yakni kapasitor. Nilai yang dibutuhkan sekitar 3.25uF. Kapasitor senilai tersebut dapat diperoleh dengan memparalel beberapa kapasitor atau dengan kapasitor blok warna hitam yang biasa digunakan dalam lampu TL. Jika R sampai mati maka otomatis lampu pilot akan putus. Secara kualitas tidak akan berpengaruh pada penerimaan siaran, Tetapi radio yang tidak menyala dial lampnya akan mengurangi estetika secara keseluruhan. Radio terasa seperti &#8220;mati&#8221; meski dapat menangkap siaran. Akhirnya R dropper saya biarkan di tempat meski berisiko merusak dial lamp. Padahal dial lamp di radio roti sangat sukar digantikan, yakni lampu tabung kecil bernilai 19V!</p>
<p>Langkah terakhir adalah membersihkan kotak yang terbuat dari Bakelite. Mesin dipisah dengan melepas 2 skrup dan dial pointer. Kotak dicuci dengan shampo dan air hangat kemudian diangin anginkan. Setelah kering dipoles dengan silicon agar bakelite mengkilat. Mesin yang sudah dilepas dibersihkan debu dan karat yang menempel. Tidak lupa WD40 pada mekanisme saklar lalu potensio semprot dengan contact cleaner.</p>
<p>Sekarang radio kembali berfungsi maksimal. Pada siang hari radio dapat menangkap siaran Vietnam, Jepang, China, beberapa negara Eropa. Padahal biasanya radio seperti ini mati salah satu atau semua gelombangnya tidak bekerja meski sudah di over haul. Saya merasa beruntung karena mendapatkan radio ini dengan harga murah dan dan bagus kualitasnya. Agaknya dalam urusan benda antik apalagi elektronik, uang bukan segala-galanya dibanding keberuntungan.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/dirakit-di-indonesia1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-136" title="dirakit di indonesia" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/dirakit-di-indonesia1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=99&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/31/radio-philips-bin336u-roti-kipas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/tune-selector.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tune selector</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/volume-tone-selector.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">volume-tone selector</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/colokan-asli.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">colokan asli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/31102010119.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Nomer tipe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/rear-cover1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rear cover</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/segel-merah1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">segel merah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mesin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/mesin-dan-modifikasi1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mesin dan modifikasi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/r-tubular.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">R tubular</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/10/dirakit-di-indonesia1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dirakit di indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stiker Radio</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/stiker-radio/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/stiker-radio/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 04:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[stiker radio]]></category>
		<category><![CDATA[stiker radio kuno]]></category>
		<category><![CDATA[stiker radio philips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Gambar di bawah adalah stiker yang biasa menempel di belakang radio tabung. Biasanya ditemukan pada radio Philips dan Ralin yang diproduksi era &#8217;50an.  Sebenarnya ini stiker peringatan dan petunjuk ke pemilik untuk mereparasi kerusakan pada ahlinya.  Kotak kosong di bagian tengah kemudian diisi nama agen atau tukang reparasinya. Tapi sekian lama menemukan radio belum pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=91&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gambar di bawah adalah stiker yang biasa menempel di belakang radio tabung. Biasanya ditemukan pada radio Philips dan Ralin yang diproduksi era &#8217;50an.  Sebenarnya ini stiker peringatan dan petunjuk ke pemilik untuk mereparasi kerusakan pada ahlinya.  Kotak kosong di bagian tengah kemudian diisi nama agen atau tukang reparasinya. Tapi sekian lama menemukan radio belum pernah sekalipun saya melihat kotak kosong tersebut diisi nama atau alamat.</p>
<p> <span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;"><img style="display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;" title="01" src="http://koncolawas.files.wordpress.com/2009/06/01.jpg?w=288&#038;h=442&#038;h=442" alt="01" width="288" height="442" /></span></p>
<p>Stiker ini menjadi menarik karena merupakan penanda diberlakukannya nasionalisasi perusahaan perusahaan asing di Indonesia. Merk Philips yang kala itu merupakan perusahaan Belanda atas perintah Bung Karno dinasionalisasi menjadi Ralin atau Radio Listrik Negara dengan nama resmi PN RALIN. Berbagai pedoman pemakaian yang kala itu berbahasa Belanda diganti atau diterjemahkan dwi bahasa. Salah satunya ya stiker ini,  menggunakan bahasa Indonesia.</p>
<p>Kayaknya asik juga kalau gambar ini dijadikan kaos.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=91&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/stiker-radio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://koncolawas.files.wordpress.com/2009/06/01.jpg?w=288&#38;h=442" medium="image">
			<media:title type="html">01</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengidentifikasi Radio Philips</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/mengidentifikasi-radio-philips/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/mengidentifikasi-radio-philips/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 04:37:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[identifikasi radio philips]]></category>
		<category><![CDATA[penomoran radio tabung]]></category>
		<category><![CDATA[philips numbering system]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tak kenal merk Philips? Jaman dulu hampir semua orang pasti menjawab Philips jika ditanya radio apa yang bagus. Brand image-nya sangat kuat melekat di kepala , menjadi brand in mind, tertancap kuat dan langsung meluncur dari mulut tanpa sadar. Begitulah dominasi merk.  Padahal menurut saya untuk urusan radio Telefunken lebih baik daripada Philips. Trafo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=69&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tak kenal merk Philips? Jaman dulu hampir semua orang pasti menjawab Philips jika ditanya radio apa yang bagus. Brand image-nya sangat kuat melekat di kepala , menjadi brand in mind, tertancap kuat dan langsung meluncur dari mulut tanpa sadar. Begitulah dominasi merk.  Padahal menurut saya untuk urusan radio Telefunken lebih baik daripada Philips. Trafo OT untuk audionya lebih baik dalam menghasilkan suara. Tapi apa daya, persepsi selalu lebih unggul ketimbang fakta.</p>
<p>Sebagaimana produk2 Belanda lainnya seperti sepeda, radio tabung ternyata dapat diidentifikasikan berdasarkan serial number-nya. Nomer serial ini dapat ditemukan di bagian belakang radio, yakni pada penutup (rear cover) dan rangka mesin. Bentuknya berupa kertas kecil menempel dengan beberapa nomer seperti di bawah :</p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc261/setapak/rear-cover2.jpg" border="0" alt="" width="578" height="356" /><br />
Perhatikan kotak hitam di tengah. Tertulis “type” lalu di sampingnya angka BIN236U. Di sebelah kanannya adalah tegangan kerjanya yang 110-130V AC. Angka bawahnya adalah frekuensi getaran listrik yang sesuai yakni 50hz. Dan bawahnya lagi, 30, mengejutkan: besar konsumsi listrik dalam watt! Bayangkan saja, radio kecil demikian  ternyata menghabiskan energi 30watt untuk menyala. Angka terakhir di bawah adalah nomor urut produksi radio.  </p>
<p>Mari dimulai. Philips biasanya menaruh 6 deretan simbol yang terdiri dari angka dan huruf untuk penomerannya. Susunan itu sendiri dibagi menjadi dua periode yakni 1946-1955 dan 1955-1965. Penomeran sebelum 1946 tidak dapat dijadikan identifikasi tahun dan tipe radio. </p>
<p><strong>Metode penomoran periode I : 1946-1956, contoh BX326U, BIN206U, BIN115U, BX535A,dll</strong><br />
-         Kode pertama berupa Huruf merupakan kode untuk Tipe radio<br />
-         Kode kedua berupa Huruf merupakan kode untuk Negara Perakit<br />
-         Kode ketiga berupa Angka merupakan kode untuk Kelas Harga<br />
-         Kode keempat berupa Angka merupakan kode untuk Tahun / Serial<br />
-         Kode kelima berupa Angka merupakan kode untuk Serial<br />
-         Kode keenam berupa Huruf merupakan kode untuk Catu daya<br />
-         Akhiran</p>
<p><strong>Metode penomoran periode II : 1956-1966, contoh nomer B2X35U, B6X72A, B4X55T, dll.</strong><br />
-         Kode pertama berupa Huruf merupakan kode untuk Tipe radio<br />
-         Kode kedua berupa Angka  merupakan kode untuk Kelas Harga<br />
-         Kode ketiga berupa Huruf merupakan kode untuk Negara Perakit<br />
-         Kode keempat berupa Angka merupakan kode untuk Tahun<br />
-         Kode kelima berupa Angka merupakan kode untuk Serial<br />
-         Kode keenam berupa Huruf merupakan kode untuk catudaya<br />
-         Akhiran </p>
<p>Sebagai contoh mari dilihat nomer tipe gambar di atas yakni BIN236U yang merupakan nomer untuk periode I.  Urutan ini dilihat sebagai :</p>
<p>                                        <strong>B-–IN–-2–-3–-6–-U </strong></p>
<p><strong>B</strong><br />
Simbol pertama adalah tipe produknya. Philips memiliki beberapa lini produk dan untuk membedakannya diberi kode-kode abjad. Kode lainnya adalah :<br />
A : Tuner<br />
F : Console<br />
B : Tabletop set<br />
N : Radio Mobil<br />
H : Radio dengan Pickup<br />
L : Portable<br />
P : Portable / Radio Mobil<br />
T : Televisi  </p>
<p><strong>IN</strong><br />
Urutan kedua  adalah negara perakit atau origin country. Kode untuk negara lainnya adalah :<br />
X      : Belanda / Belgia<br />
A     :  Austria<br />
D     :  Jerman<br />
S      : Swedia<br />
DK   :  Denmark<br />
E     :  Spanyol<br />
F     :  Perancis<br />
SF   :  Finlandia<br />
G     :  Inggris Raya<br />
I      :  Italia                                   <br />
N     :  Norwegia<br />
W     : Amerika Serikat<br />
IN   :   Indonesia<br />
Philips memiliki banyak pabrik perakitan elektronik di berbagai negara, hingga dimunculkanlah kode-kode tertentu untuk membedakan asal pabrik perakitan. Yang paling umum adalah kode X, yang merupakan produksi Belanda (juga Belgia). Pasangan huruf dan nomor juga bisa berarti lokasi perakitan, misalnya E-nomor berasal dari Eindhoven, PL-nomor dari Philips Leuven.</p>
<p><strong>2</strong><br />
Urutan ketiga kelas harga. Semakin kecil angka nomornya, berarti makin murah dan rendah kelasnya, sebaliknya semakin besar berarti semakin mahal. Kelas juga menunjukkan fasilitas yang menyertainya, misalnya untuk angka 0 (nol) adalah paling murah dan sederhana, tanpa disertai fasilitas apapun. Angka 6 dapat dipergunakan sebagai amplifier. Angka 9 termahal sekaligus memiliki beberapa fasilitas seperti tape recorder dan signal scope. Tetapi untuk radio pasar Indonesia saya perhatikan selalu diberi nomer lebih tinggi untuk produk yang sama. Entah apa maksudnya.</p>
<p><strong>3</strong><br />
Urutan keempat adalah akhiran dari tahun pembuatannya. Nomer pada contoh adalah termasuk dalam periode I maka angka 3 berarti tahun ‘53.</p>
<p><strong>6</strong><br />
Urutan kelima adalah nomer serial pembeda radio. Hal ini dilakukan karena pada tahun yang sama kemungkinan besar Philips memperoduksi beberapa tipe radio sehingga untuk membedakan jenisnya digunakan angka serial ini.</p>
<p><strong>U</strong><br />
Urutan keenam adalah kode sumber daya. Kode lainnya adalah :<br />
A : Tenaga listrik AC<br />
U : Universal (AC / DC)<br />
B : Baterai<br />
V : Aki<br />
T : Radio transistor dengan baterai voltase rendah<br />
X : Catu daya utama AC atau dengan vibrator DC<br />
Z : Gabungan aki dan soket<br />
Pada umumnya radio tabung menggunakan akhiran A, yang berarti catu daya dari voltase AC alias PLN punya. Sementara untuk kode U radio tersebut dapat menggunakan arus AC maupun DC 90V. Huruf V adalah radio mobil. Kode huruf X berarti radio tersebut memiliki catu daya utama AC, tetapi dapat dinyalakan dengan catu daya DC melalui vibrator (semacam tenaga cadangan, fungsinya mirip baterai).</p>
<p>Beberapa tipe radio menambahkan akhiran yang bisa berupa garis miring atau nomor. Kode ini bisa berarti apa saja semisal kode perbaikan teknis, tingkat pengembangan, besar frekuensi daya listrik, kode modifikasi, Mmaupun produk untuk pasar tertentu.</p>
<p>Mengacu penjelasan diatas maka radio Philips dengan tipe BIN236U dapat diterjemahkan sebagai:</p>
<p><em>“Radio Philips model table top yang menduduki klas 2 dan diproduksi pada tahun 1953 dengan menggunakan tabung tabung model U yang dapat dinyalakan dengan tegangan AC maupun DC.”</em></p>
<p>Nah sekarang silakan periksa bagian belakang radio anda, siapa tahu ada sejarah menarik lainnya yang terungkap. Selamat memeriksa.</p>
<p><em>artikel ini merupakan saduran dari tulisan <a href="http://www.cs.uu.nl/~gerard/RadioCorner/Articles.html">Gerard Corner  </a> dan pernah saya tulis untuk <a href="http://dirgantara.idxc.org/dirga12/1203f.shtml">majalah Dirgantara  </a>  dan <a href="http://forum.detik.com/barang-antik-t18259p2.html">forum detik</a>.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=69&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/10/25/mengidentifikasi-radio-philips/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i212.photobucket.com/albums/cc261/setapak/rear-cover2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Philips ke 100,000 dan Bung Karno</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/08/27/philips-ke-100000-dan-bung-karno/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/08/27/philips-ke-100000-dan-bung-karno/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 01:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[radio bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[radio philips ke 100.000]]></category>
		<category><![CDATA[radio roti bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[radio tabung dan bung karno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Suka bung Karno…? Ini dia satu lagi foto langka  punya seorang teman di Londo sana, mas Roel Marnette. Foto diperoleh dari ayah mertua teman beliau yang dulu menjadi kepala Philips di Indonesia. Begini ujarnya :                                                                                                                                    The 100.000st radio which had been made in the factory in Bandoeng, a radio of the type of BIN206U, was [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=38&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suka bung Karno…? Ini dia satu lagi <a href="http://www.xs4all.nl/~marnette/radioindonesie/indischeradio/100000.htm">foto langka </a> punya seorang teman di Londo sana, mas Roel Marnette. Foto diperoleh dari ayah mertua teman beliau yang dulu menjadi kepala Philips di Indonesia.</p>
<p><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/bk-dan-philips-bin206u1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-41" title="BK dan Philips BIN206U" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/bk-dan-philips-bin206u1.jpg?w=614&#038;h=444" alt="" width="614" height="444" /></a><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/bk-dan-philips-bin206u.jpg"></a></p>
<p>Begini ujarnya :                                                                                                                                    <em>The 100.000st radio which had been made in the factory in Bandoeng, a radio of the type of BIN206U, was offered to president Soekarno. From left to right: – Jhr. van Lennep, head PR of Philips, – N. Bessem, commercial director of Philips, – unknown, – president Soekarno, – Ir. J.J. of Rijsinge, technical director of Philips Dutch India/Indonesia. Place of operation: the presidentiele palace to Medan Merdeka at Djakarta (former palace of the governor general to the king square at Batavia).</em></p>
<p>Sayangnya tidak jelas kapan foto tersebut dibuat, apakah pada 1950–saat tipe tersebut dirilis ataukah sesudahnya. Saya menduga angka 100,000 tersebut dihitung dari saat Philips Radio dinasionalisasi pada 1950an, bukan dari total keseluruhan radio yang pernah dirakit di Indonesia.</p>
<p>Mengacu pada buku <em>Dokumentasi Service 25 Pesawat Radio Buatan Indonesia </em>yang dikeluarkan oleh Ralin maka BIN206U berada di urutan ketujuh setelah BIN115U, BIN115B,BX165U,BIN186U,BIN197U,BIN205B. Jika benar urutan menunjukkan sekuen tahun pembuatan maka setiap seri radio tersebut rata-rata diproduksi (100,000:7) 14,285 buah.  Angka yang cukup masuk akal karena hampir semua radio roti yang saya amati kebanyakan memiliki angka sepuluh ribuan pada nomer produksinya.</p>
<p> Kini, dimanakah radio ke 100,000 tersebut berada? Di tangan kolektor ataukah sudah musnah ditelan waktu? 100,000 hanyalah angka yang ditulis pada secarik kertas di belakang radio, begitu rentan, mudah terkelupas, sobek, dan hilang. Mirip nasib radio tabung lainnya yang seharusnya kita hargai sebagai penanda sejarah sosial dan perindustrian kita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=38&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/08/27/philips-ke-100000-dan-bung-karno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/bk-dan-philips-bin206u1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BK dan Philips BIN206U</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Radio dan Kenangan</title>
		<link>http://radiotabung.wordpress.com/2010/08/17/26/</link>
		<comments>http://radiotabung.wordpress.com/2010/08/17/26/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 01:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>radiotabung</dc:creator>
				<category><![CDATA[radio bin427a]]></category>
		<category><![CDATA[radio kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[radio masa kecil]]></category>
		<category><![CDATA[radio tabung kenangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://radiotabung.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Membolak balik foto lama di rumah akhirnya menemuka  yang satu ini, sangat nostalgik, romantik, ndesit. Ini adalah foto ibunda dengan radio milik keluarga kala itu, Philips BIN427A.  Di balik foto tertera tanggal 16 November 1972, berarti saat itu saya baru berbentuk janin 1 bulan. Seiring waktu radio tersebut akhirnya rusak. Sayangnya ketika coba direparasi saudara yang membuka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=26&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membolak balik foto lama di rumah akhirnya menemuka  yang satu ini, sangat nostalgik, romantik, ndesit. Ini adalah foto ibunda dengan radio milik keluarga kala itu, Philips BIN427A.  Di balik foto tertera tanggal 16 November 1972, berarti saat itu saya baru berbentuk janin 1 bulan.</p>
<p>Seiring waktu radio tersebut akhirnya rusak. Sayangnya ketika coba direparasi saudara yang membuka bengkel TV radio hilang entah kemana. Konon karena tak sanggup diatasi oleh mekanik modern. Meski menghilang kenangan akan bentuknya yang khas terus mengendap hingga dewasa. Sebagai balita yang saya ingat adalah tombolnya yang luar biasa besar dan berjejer banyak.  Dan tentu saja masa masa indah yang menyertainya, kala semua masih sederhana. </p>
<p>Bertahun tahun kemudian barulah kerinduan saya tertuntaskan. Bulan Juli 2006  saya berhasil mendapatkan radio sejenis dengan harga Rp 300,000. BIN427A akhirnya melengkapi sekeping kenangan yang susah payah saya satukan bersama puluhan radio lainnya. Kenangan, selalu kita butuhkan untuk menatap ke depan.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/my-mom-with-radio1.jpg"><img class="size-full wp-image-27  aligncenter" title="my-mom-with-radio1" src="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/my-mom-with-radio1.jpg?w=614" alt=""   /></a><br />
 </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/radiotabung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/radiotabung.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=radiotabung.wordpress.com&amp;blog=7972669&amp;post=26&amp;subd=radiotabung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://radiotabung.wordpress.com/2010/08/17/26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e03e749fb82ba1da860624ede79c3c1d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">radiotabung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://radiotabung.files.wordpress.com/2010/08/my-mom-with-radio1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">my-mom-with-radio1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
