Radio BUSH EBS3A–versi ekspor DAC90A

Pasca PD II Indonesia mulai dibanjiri consumer goods dari negara-negara Eropa dan Amerika. Termasuk diantaranya adalah radio. Jika sebelumnya Philips begitu mendominasi pasar maka merk seperti Telefunken, AEG, Tonfunk,Braun, Bush, Emerson, Ferguson, Philco, Hallicrafter, dan lain-lain perlahan beredar mengisi celah pasar yang ada. Umumnya produk tersebut diimpor langsung dari negara asalnya. Sejauh ini hanya Telefunken yang saya ketahui dirakit di Semarang.

Salah satu merk yang diimpor adalah Bush dari Inggris. Meski terhitung pemain besar di Inggris merk ini kalah jumlah dengan Telefunken, apalagi Philips. Terlihat dari sedikitnya kolektor saat ini yang memiliki radio Bush. Mungkin importir Bush hanya memasukkan sedikit radio atau mungkin juga kalah dengan Philips yang memiliki pabrik perakitan di Indonesia. Yang jelas produk Bush tidak banyak beredar di Indonesia.

Dari sedikit jumlah tersebut ada satu seri Bush yang sangat dicari yakni DAC90A. Secara fisik radio ini termasuk radio roti karena berukuran kecil, menggunakan tabung U,  dan terbuat dari Bakelite. Yang membedakan adalah DAC90A memiliki gelombang AM bukan SW layaknya radio roti Belanda. Biasanya orang malas mendengarkan gelombang SW yang umumnya news radio, sebaliknya gelombang AM memberikan banyak alternatif karena hingga sekarang masih banyak stasiun radio komersil di gelombang tersebut.

Tipe ini mulai diproduksi Februari 1950 hingga 1957. Perjalanan siklus hidupnya dapat dilacak dari perkembangan disain knob depan, model awal lingkaran dengan rib, berikutnya dengan penambahan tulisan tone dan volume pada knob, dan terakhir penambahan lingkaran warna emas pada knob. Koleksi yang saya miliki merupakan radio versi awal yang dicirikan oleh rib pada knob depannya.

Saya mendapatkan radio dalam kondisi mati, kehilangan beberapa komponen, penutup belakang, dan kabel listriknya. Cukup menyedihkan, tetapi demi sebuah koleksi bernilai tinggi saya tetap membelinya. Sisanya masih bertahan baik seperti penutup speaker dari kuningan dan kaca gelombang yang utuh. Bahkan casing bakelitenya terlihat mulus tanpa banyak goresan.

Meski sesaudara dengan radio BIN ukurannya sedikit lebih besar. Bahkan terasa berat karena casing mesin dan bagian mekanis dalamnya terbuat dari besi tebal.

Reparasi
Seperti radio roti lainnya terdapat 5 tabung di dalam yakni UCH42, UF41, UBC41, UL41, dan perata UY41. Radio didisain bekerja pada multi tegangan 110-220V.  Tetapi berbeda dengan radio Belanda yang menggunakan R dropper sebagai voltage selector radio ini menggunakan trafo stepdown internal sebagai droppernya.

Pemeriksaan berikut menemukan  trafo OT hilang, speaker asli hilang, dan pernah direparasi.

Untuk menghindari resiko saya mengganti elco perata dengan sepasang 47uF/350V yang baru, lalu kapasitor filter 0.01uF/350V di bagian final, penambahan elco 47uF/16V pada katoda UL41, dan bypass MFT dengan 100pF. Trafo OT saya ganti dengan kanibal radio BIN karena memiliki resistensi sama yakni 5000 ohm.

Jejak reparasi terlihat pada penggantian R yang mengalirkan tegangan tinggi (HT) ke MFT I. Setelah diukur ternyata masih memadai dan R saya biarkan di tempat.

Dari hasil gugling di internet terkait Bush DAC90A beberapa komponen baru saya tambahkan untuk meningkatkan kualitas suara.

Setelah semua terpasang lalu kabel saya colokkan. Perlahan tegangan tinggi mengalir ke elco power supply dan setelah 1 menit ternyata tetap tidak berbunyi. Tanpa pikir panjang semua tabung saya ganti dengan sejenis yang sehat, dan akhirnya terdengar suara penyiar di gelombang AM . Rupanya tabung UCH42 dan UF41 mengalami penurunan emisi hingga tidak berfungsi samasekali. Radio kemudian menyala secara penuh di tiga gelombangnya.

Tipe Yang Unik
Dari gugling lebih lanjut barulah saya tahu ternyata radio ini adalah versi ekspor dari BUSH DAC90A yang diberi seri EBS3A.

Perbedaanya adalah radio ini memiliki trafo stepdown, colokan untuk unit vibrator (sumber baterai–letaknya di sebelah kiri colokan listrik), dan 3 gelombang (SW1, SW2, AM). Tipe ini juga tidak memiliki spul antena yang besar di dalamnya, diganti dengan koil kecil.

Versi ekspor biasanya ditujukan untuk negara-negara jajahan/commonwealth dari Inggris seperti India, Pakistan, Malaysia. Dan kemungkinan juga diekspor ke Indonesia.

Kemungkinan besar seri EBS3A tak banyak dikirim ke Indonesia mengingat tipe ini sangat jarang terlihat di pasaran antik. Mungkin produknya kalah saing dengan radio roti Philips yang sudah dirakit lokal atau mungkin juga ada kebijakan politis entahlah. Yang jelas tipe ini layak dikoleksi karena kelangkaannya, super jarang, rare !