Merawat Radio Tabung

Lazimnya barang antik maka radio tabung harus kita rawat dan pelihara agar terus berfungsi atau tetap terjaga keindahannya. Radio yang umumnya buatan 1940-50an tentu saja rentan kerusakan dan mencari spare partnya hampir mustahil kecuali mengkanibal atau pesan dari toko online luar negeri. Mahal tentunya.

Berikut beberapa kiat sederhana agar radio yang masih menyala tetap awet :

1. Jaga temperatur radio dan lingkungan sekitarnya
Saat dibuat pada jamannya dulu, radio tabung–IMHO–tidak didisain untuk mendengarkan siaran 24 jam. Dahulu stasiun radio mungkin siaran 10 jam per hari atau malah mungkin kurang. Agaknya panas belum menjadi isu kala itu. Setelah sekian tahun dinyalakan panas dapat berdampak ke komponen pendukung seperti Resistor, Capacitor, koil, dan transformernya.

Jangan memaksa radio untuk menyala dalam jangan waktu lama, semisal lebih dari 4 jam. Panas berisiko merusak komponen uzur di dalamnya. Apalagi radio roti yang memiliki ruang ventilasi dalam yang sempit. Demikian pula untuk radio yang lebih besar, perlakukan hal sama. Ingat mereka adalah barang tua dengan teknologi kuno yang lebih rapuh.

Khusus Indonesia kondisinya diperparah dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Untuk meminimalisir maka perhatikan peletakan radio, jangan sampai tutup belakangnya yang berlubang-lubang terhalang/tertutupi benda lain semisal mepet ke tembok.

Sediakan cukup ruang untuk bernafas. Hindari kelembaban dengan tidak menaruh di luar ruangan yang berpotensi kena sinar matahari langsung dan lembab hujan/cuaca luar. Hindari radio berdebu atau menjadi sarang laba2 bagian dalamnya. Alasan utamanya adalah agar koil dalam radio tidak rusak/berkarat. Jika koil terutama koil IFT berkarat radio akan mati atau tidak menerima siaran samasekali.

Jika ingin menyimpan dalam jangka waktu lama ada baiknya radio dibungkus plastik rapat dan masukkan kardus. Hindari kardus dari kelembaban dengan tidak menaruh di lantai atau dinding apalagi sampai terpapar basah. Beberapa radio yang saya simpan dalam kardus 2 tahun kemudian mati karena berkarat. Ternyata bagian bawahnya lembab sehingga menghancurkan semua isinya. Karat juga dapat diminimalisir dengan menyemprotkan WD40 ke dalam chasis mesin sebelum disimpan.

2. Rutin dinyalakan
Pastikan radio DINYALAKAN SECARA TERATUR, bukan didiamkan begitu saja bertahun-tahun layaknya benda mati. Tetapi jangan pula berlebihan semisal dipaksa nonstop 24 jam, cukup 2-3jam/hari atau terserah, yang penting radio diaktifkan secara teratur.

Banyak kasus radio dibeli kondisi hidup lalu mati gara-gara tidak pernah diaktifkan. Entah apa penyebabnya saya sendiri tidak bisa memastikan.

Sebelum dinyalakan perhatikan rating radionya. Semua radio roti dirancang untuk bekerja di 110-127V, sementara radio table top umumnya di 220V. Jangan pernah mencolokkan radio roti langsung ke 220V, tabung dapat meledak karena kelebihan tegangan.

Beberapa radio roti terutama dari Inggris dapat dinyalakan dengan 220V karena memiliki resistor penurun tegangan (R dropper). Cek bagian belakang kanan atas kabel, pada radio table top biasanya terdapat voltage selector. Pastikan berada di rating yang tepat.

3. Jangan perlakukan kasar
Jangan perlakukan radio seperti perangkat modern yang bisa kita nyala matikan-nyala matikan tanpa khawatir merusak. Radio tabung setidaknya membutuhkan 10-20 detik agar listrik terkumpul di elco perata dan menyalakan filamen tabung.

Jika radio belum penuh bersuara LALU DIMATIKAN DAN LANGSUNG DINYALAKAN LAGI maka arus listrik akan balik menghantam filamen perata di bagian belakang. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka tabung perata tewas dengan sukses. Ini merupakan penyakit yang umum pada RADIO ROTI yang tidak memiliki tranformer.

Kalaupun radio memiliki transformer dan menggunakan perata silicon–umumnya ada di radio Jerman seperti Telefunken, AEG, Siegfred, Grundig–resiko kerusakan adalah pada tabung final alias amplifier seperti EL84, EL42.

Ini juga berlaku untuk knob gelombang (dial tuning) dan saklar-saklar yang ada termasuk pengatur volume. Saklar tekan (tuts), saklar putar, saklar tarik, semuanya adalah perangkat mekanik yang berisiko rusak seiring waktu dan pemakaian. Oleh karena itu perlakukan secara hati-hati semua bagian mekanik tersebut. Jika dimungkinkan semprot contact cleaner, termasuk kedalam potensiometernya.

Jika ingin lebih ekstrem saat menyala matikan radio cukup langsung tarik/colok kabel listriknya, tidak dengan tuts atau knob putarnya. Meski terlihat berlebihan hal  ini dapat mengurangi resiko kerusakan mekanis.

4.Serahkan ke achlinja
Jika setelah 1 menit lebih radio dinyalakan tidak mengeluarkan suara, bahkan desis sekalipun di speaker, matikan segera radio. Kemungkinan besar ada tegangan yang tidak masuk di bagian tertentu. Biasanya pemilik awam akan terus menyalakan radio hanya karena pilot lamp di glass scale atau tabung terlihat menyala. Padahal itu tidak ada hubungannya dengan kerusakan, radio dapat terus menyala semua lampu dan tabungnya meski tidak berbunyi.

Jika dibiarkan terus transformer audio (OT) akan terbebani dan berisiko putus. Oleh karena itu jika menemukan gejala di atas jangan tjoba perbaiki sendiri pesawat tuan, serahkan ke achlinja….

Adakalanya kerusakan hanya intermiten belaka, lalu layaknya dalam film-film radio digebrak, dipukul berkali kali. Jika beruntung mungkin akan menyala, tetapi berapa banyak keberuntungan kita miliki? Jangan tunda, segera reparasi untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.

Selamat bernostalgia!