Philips BX505A-11 : spesialis penangkap SW

 

Pada akhir ’40an Philips mengeluarkan beberapa seri radio  yang ditujukan untuk menangkap gelombang SW dengan lebih baik. Sasarannya adalah masyarakat yang gemar ber DX (menangkap siaran jarak jauh) dan para ekspatriat Eropa yang tersebar di daerah koloni Asia.

Sebelumnya kebanyakan radio Philips memiliki 3-4 gelombang saja yakni 1 MW dan 2-3 sisanya adalah SW. Tetapi pada tipe terbaru ini gelombang SW dipecah (spread) hingga 5 band dan tangkapan tertingi mencapai 11m (yang nyaris mendekati 27 Mhz, daerah siaran CB). Dapat dibayangkan sebagai perbandingan antara penggaris 100cm yang dibagi hingga cm dan mm. Tentu yang memiliki ukuran mm mampu mengukur panjang lebih teliti ketimbang yang cm saja. Dengan membagi  menjadi beberapa band maka radio akan menangkap lebih banyak siaran.

Radio radio tersebut memiliki rangkaian mesin yang nyaris sama, hanya dibedakan oleh casing dan asesoris seperti mata kucing dan sumber dayanya. Tentu saja harganya berbeda yang terlihat dari penomeran klasnya. Radio tersebut antara lain BX480A, BX591A, BX594A, BX505A, dan BX690A. Radio yang saya miliki adalah BX505A-11.

Radio saya peroleh dalam keadaan “setengah hidup”,  menyala tapi kualitasnya buruk: mendengung (hum), gemerotak, menggerang, dan buruk kualitas penerimaannya. Radio ini aslinya memiliki 2 tone warna, tapi entah aus atau diamplas akhirnya tersisa warna dasarnya saja, hitam mengkilat. Kerangka papan gelombangnya mengingatkan saya pada radio Gatotkoco yang tersohor itu. Sayangnya sudah aus dan retak di tengah.

Komponen yang terlihat tidak asli adalah power transformer dan audio. Perata AZ1 sudah hilang beserta soketnya digantikan sepasang dioda 1N4007. Saya sempat keheranan kenapa line up tabungnya tidak lazim yakni penggabungan tabung tipe Locktal dan Rimlock. Biasanya radio menggunakan tabung sejenis dalam satu setnya.

Dengan segera saya unduh skemanya di www.radiotechniek.nl dan saya semakin terheran-heran karena aslinya tipe ini memiliki tabung rimlock (2x EAF42), locktal (ECH21, EBL21), side contact (AZ1, biasa disebut kaki bebek) dan octal (EM35 mata kucing).1 radio 4 jenis soket! Skema yang saya gunakan adalah milik BX594A karena lebih mirip ketimbang BX505AV yang tersedia di situs tersebut.

Reparasi
Untungnya radio ini memiliki mesin ala ’30-40an yang koil dan wiringnya besar-besar semua, tidak ruwet rumit seperti era ’50an. Ukuran besar dan terbuka memudahkan ketika mereparasi dan menambah daya tahan komponen itu sendiri.

Karena OT sudah diganti dengan yang biasa, yakni hanya 2 tap pada sekundernya, maka rangkaian tone dalam radio ini menjadi percuma. OT yang asli memiliki beberapa tap pada sekunder  untuk feedback kontrol nada. Tanpa tap feedback maka tone tidak bisa bekerja maksimal.

Akhirnya sekalian saja rangkaian tone yang njlimet itu saya buang semua, lalu OT saya ganti lagi  dengan copotan dari radio Jerman cap ‘Tonfunk’. Saking semangatnya mempreteli komponen akhirnya beberapa bagian vital ikut terbuang yang baru belakangan saya sadari.

Setelah bersih lalu bagian amplifier saya rakit ulang mengikuti skema aslinya. Untuk menambah gain saya tambahkan lagi R dan Elco di katode EBL21. Tidak lupa C tone correction pada anoda dan groundnya.

Hampir semua C bawaan radio,terutama yang tar hitam,  saya buang. Pengalaman memperlihatkan kapasitor tar hitam sangat rentan bocor meski normal ketika diukur. Termasuk juga sepasang Elco powersupply saya ganti dengan yang baru.

Mata kucing EM35  yang terlihat redup tak bergerak-gerak saya ganti R nya lebih kecil dari standar 1M ke 47k agar tegangan anode naik sehingga fosofor hijau di dalam dapat kembali berpijar. Sensitivita penerimaan saya tingkatkan dengan menambah C bypass 47pF pada MFTnya. Selesai.

Radio kemudian saya nyalakan. Perlahan tabung EBL21 memerah filamennya diikuti tabung lainnya. Dari speaker 20cm terdengar suara siaran diantara gemeratak, menggerang, dan dengungan. Ternyata masih tidak beres meski sudah menangkap gelombang. Langkah pertama adalah mematikan semua saklar lampu di rumah, termasuk charger, TV, dan dispenser air. Ternyata tetap saja, masih menggerang seperti efek lampu rumah yang dinyalakan.

Dugaan awal adalah kebocoran kapasitor, tapi semua sudah saya ganti dengan baru masak masih bocor juga RFnya? Radio tetap menggerang meski volume sudah minimal. Dugaan berikut adalah tabungnya. Tapi tidak ada perubahan meski sudah diganti semua. Kemungkinan berikut adalah perakitan amplifier yang buruk.

Akhirnya amplifier saya tata ulang dan rapikan lagi mengikuti skema aslinya. Pada saat merunut skema baru saya sadari ada bagian yang hilang, yakni beberapa R dan Elco di dekat powersupply. Semula saya mengira sebagai bagian tone karena berada di lokasi yang sama sehingga ikut saya buang.

Rangkaian kecil tersebut lumayan membingungkan karena tidak jelas apa maksudnya. Jika dilihat sepintas mirip filter bypass ke ground tetapi kenapa ada Elco yang kaki positifnya digroundkan? Setelah cukup lama gugling akhirnya saya menemukan penjelasan teknisnya  di artikel Gerard Corner.

Umumnya negatif bias diperoleh langsung dari NEGATIF (-) yang dihubungkan ke chasis menjadi ground. Tetapi dalam radio ini Philips menyaring dan menghaluskan NEGATIF sebelum dialirkan ke seluruh bagian rangkaian dengan pasangan resistor (pada skema adalah R5 dan R6) dan dihaluskan oleh C3. Lihat skema di bawah:

Bias untuk tabung frequensi tinggi diambil dari rangkaian ini. Termasuk pula AVC dan bagian pre amp. Jika salah satu komponen tersebut rusak atau hilang (umumnya karena elco yang kering) maka arus frekuensi tinggi dari tabung akan mengalir ke ground menghasilkan osilasi atau kata orang suara brengengeng (weleehh..)

Akhirnya pasangan perata tersebut saya pasang kembali lalu kembali colokkan listrik dan……..voilaa…akhirnya suara osilasi hilang! Tidak ada lagi suara ngreengggg mengganggu, tinggal hum halus yang menurut saya tidak terlalu mengganggu. Seperti tidak percaya lalu R dan C saya putus sementara, eh bener juga, muncul suara ngeeenngggg yang kencang.

Philips dan perkembangan radio
Meskipun didisain untuk ber DX menurut saya seri BX505A dan sejenisnya bukanlah real DX tuner. Philips hanya membagi lebar gelombang lebih banyak dari biasanya yang hanya 3. Semestinya jika mau serius ber DX (dengan cara paling murah) adalah dengan menambah 1 tabung lagi untuk RF (seperti pada radio BX376A atau Kompas) dan fine tuning. Cara lain banyak tapi tentu ruwet dan mahal.

Mungkin sekedar gimmick untuk meraih pasar atau mungkin juga karena alasan teknis seperti yang dijelaskan Gerard Corner : pada saat radio ini diluncurkan tahun ’50an matahari sedang mengalami sun spot terbanyak. Sun spot berpengaruh besar pada propagasi sinyal SW yakni semakin banyak sun spot semakin mudah siaran SW diterima. Siaran pemancar di daerah terpencil pun akan mudah diterima. Tanpa menggunakan RF amplifier pun siaran SW akan mudah tertangkap.

Sayangnya kondisi tersebut tidak selalu ada sehingga mendengarkan siaran dengan radio yang sama tidak akan semudah pada jamannya dulu.

Tangkapan radio ini sendiri menurut saya cukup memuaskan. Gelombang MW diterima penuh, bahkan kadang radio Vietnam ikut tertangkap. Gelombang SWnya tertangkap di semua band dengan hanya antena sepanjang 2m. Ketika tombol tuning diputar dengan cepat akan terdengar suara glug glug glug karena perpindahan cepat dari pemancar satu ke lain pertanda radio mampu menangkap banyak siaran.

Saat memutar gelombang jemari terasa ringan karena di bagian dalam batang tuning terpasang semacam roda besi besar yang membantu gerakan memutar. Terkadang jika knob tuning kita putar cepat maka dial
meter akan bergerak sendiri akibat daya dorong roda besi. Orang barat bilangnya flying wheel tuning.

Suaranya? Wehh..persis gambaran orang tentang radio tabung: ngebas dalem. Radio ini masih menggunakan speaker aslinya yang acap disebut “paku tiga”, speaker berdiameter 20cm yang dibungkus kain (entah buat apa). Mungkin juga karena efek resonansi casingnya yang cukup besar sehingga tersedia cukup ruang besar di dalam untuk memantul.

Radio Philips kembali memberi saya pelajaran berharga. Dulu saya sempat kebingungan melihat radio tanpa OT, ternyata memang Philips mendisainnya transformeless di radio Bi Ampli dengan mengganti speaker 800ohm, kemudian disain loudness Philips berupa penambahan tapping pada potensiometer, lalu peningkatan audio dengan tambahan tapping di OT. Dan kali ini adalah menghaluskan negatif bias melalui R dan C. Barangkali besok saya akan menemukan hal baru lagi. Masih banyak bangkai menanti untuk dipelajari.