Radio Philips 296A : Tinggalan Pre War


Radio dari era sebelum PD II atau pre-war saat ini terhitung cukup langka di pasaran lokal. Hal ini bisa dilihat dari sedikitnya radio pre-war yang beredar di pasar antik atau tangan kolektor. Radio seperti inilah yang disebut langka, antik, tak pasaran. Tentu saja yang saya maksud adalah radio yang pernah ‘menetap’ di Indonesia, bukan ‘kiriman’ dari ebay seperti belakangan ini yang membanjiri pasar lokal.

Kemungkinan pada jamannya radio itu sendiri tak banyak ada. Apalagi pada masa kolonialisme dimana radio hanya bisa dimiliki kalangan tertentu saja. Populasinya bisa jadi juga semakin berkurang seiring pergolakan di tanah air mulai dari penjajahan Jepang, pertempuran ’45-’49, hingga eksodus para ekspatriat pada 50an. Radio pastinya banyak yang  mengalami kehancuran atau menghilang dibawa pulang ke negara asal.  Radio yang ‘bertahan’ hingga kini diibaratkan seperti lolos dari cengkeraman waktu.

Baru baru ini saya berhasil ‘menyelamatkan’ salah satu tinggalan bersejarah tersebut, sebuah radio Philips tipe 296A yang dirilis tahun 1939. Kondisinya terbilang utuh bahkan nyaris sempurna.

Disainnya sangat kaku dan masif. Tapi bila dilihat sepintas mirip disain bangunan kolonial era 30an. Aliran Art Deco kah? Perhatikan punggung saat mengangkatnya! Dengan ukuran 53x28x37 cm dan berat mencapai 16.5kg jelas bukan sembarang onggokan.

Kotak terbuat dari lapisan kayu yang dibuat seolah nampak tebal lalu dilapisi kulit kayu dengan urat yang mewah. Warnanya, mungkin ini yang disebut warna prodo? keemasan? Warna yang mewakili kemewahan?

Untuk menyalakan radio mula-mula saklar sebelah kiri luar diputar. Kemudian knob depan kiri untuk mengatur volume dan tone. Knob paling kanan berfungsi untuk mencari (tuning) dan memindah gelombang. Bila knob tuning ditarik keluar maka berubah menjadi fine tuning atau bandspread.  Fitur yang langka !

Kaca gelombang menggunakan skala penerimaan dalam meter dan “Indische Schaal”, yakni pencantuman stasiun radio berdasar nama kota djaman Hindia Belanda dengan ejaan Van Ophuijsen. Bisa kita lihat penamaannya yang unik dan sangat khas aroma jadulnya : Tjepoe, Buitenzorg, Bandoeng, Soerabaia…

Lampu tabung menggunakan tipe  Red E alias kaki bebek warna merah. Perhatikan lampu 4496,  penstabil tegangan. Warnanya oranye benderang. Langka dan jarang digunakan di radio.

Nah yang menarik lagi adalah tombol kecil di depan tengah radio. Tombol ini berfungsi untuk mengatur kepekaan penerimaan yang ditampilkan dengan warna dial lamp pada kaca gelombang : hijau, kuning, dan orange. Warna hijau dipilih jika ada stasiun radio yang sangat kuat di sekitar radio, lalu kuning untuk kepekaan standar, dan orange bila kita menginginkan ber DX alias menangkap radio yang jauh jaraknya.

Konektor listrik khas radio lama. Kabel power menyatu dengan tutup belakang dan dapat dipisah lepas dari body. Pada era berikutnya biasanya kabel menyatu tak dapat dipisah dari radio.

Reparasi                                                                                                                                                                                                                                      Radio saya peroleh dalam keadaan mati. Sebelumnya si penjual  menginformasikan hanya menangkap satu pemancar saja, sisanya kosong.

Setelah tiba di rumah langsung saya coba, weleeeh ternyata cuma menghasilkan suara bersiul siul dan gemuruh, tipikal masalah osilasi. Tak ada siaran yang tertangkap. Malah semakin gaduh dengan bunyi gemerotak dan cuit bersahutan.

Setelah dibongkar ternyata radio pernah direpair sebelumnya. Chasis dicat abu abu besi, mungkin untuk menghindari karat. Kapasitor trimmer (trimer dandang) hilang semua dicopot. Ada komponen baru yang menempel dan wiring yang rapuh karena usia.

Berbekal skema aslinya radio mulai diperbaiki. Semua kapasitor black tar buang dan ganti yang baru, jalur-jalur dikembalikan sesuai skema, elco ganti yang baru, begitu pula kapasitor bypass ganti semua. Setelah siap lalu colok ke listrik dan…..ebusetttt……tetap tak menangkap siaran!!

Periksa lagi. Akhirnya saya menemukan wiring bagian IFT I yang terbalik. Radio ini memiliki IFT yang unik. Biasanya IFT memiliki  sepasang lilitan saja, Primer dan Sekunder. Nah yang ini bagian sekundernya ditambahi lilitan untuk meningkatkan kepekaan (gevoelig) yang dapat dipilih dengan memutar saklar.

Rupanya ada sedikit kekeliruan dalam memasang kabel, terutama karena ada 1 gigi kontak pada saklar yang hilang sehingga menyebabkan radio bercuit cuit osilasi.

Kelar urusan wiring di IFT kemudian lanjut ke tabung penguat IF yang saya lapisi lagi dengan kawat email ke ground untuk mengurangi osilasi.

Pemeriksaan berikutnya adalah tegangan di RF dan Mix/Osc. Ternyata wafer switch yang menghubungkan Mix/Osc ke band switch rusak, ada beberapa gigi yang hilang, sehingga sinyal dari antena tidak bisa masuk. Karena saya tidak mau dipusingkan dengan membongkar dan mengganti rangkaian wafer switch akhirnya saya putuskan untuk menghubung singkat koneksi dan membiarkan hanya gelombang AM yang bekerja. Apa boleh buat, daripada sama sekali tak berfungsi.

Dan ternyata, temuan berikutnya lebih parah……:

Tenyata koil RF dalam selongsong habis dipangkas,  putus semua! Tidak ada lagi kabel yang saling berhubungan. Wah wahh…siapa yang tega melakukannya? Dan kenapa? Pantas dari luar tabung terlihat sobek, jelas ada yang membelah dan membuka isinya. Mungkin dulu ada yang mencoba memperbaiki tetapi malah merusak semua kabel halus didalam tabung.

Wah apa akal? Kanibal? Yo-ah, ini dia solusi praktisnya.

Bongkar bongkar bangkai akhirnya saya menemukan radio dengan koil RF. Sayang untuk bagian SWnya beda lebar bandnya sehingga hanya AM saja yang saya manfaatkan.  SW terpaksa harus dikorbankan.

Kembali ke radio, pasang koil mixer AM, bypass jalur saklar gelombang, dan hell yeaahh…..akhirnya terdengar siaran AM dengan jernih!

Radio terdengar hening tanpa kresek kresek atau dengung mengganggu. Penangkapannya juga tajam padahal hanya menggunakan kabel beberapa senti sebagai antena. Saat saklar dipindah ke PHONO lagi-lagi hanya keheningan yang ada, suara dengung halus hanya terdengar saat telinga ditempelkan ke speaker. Saya sangat puas dengan hasilnya. Terutama karena radio ini sudah berumur lebih dari 70 tahun.

Akhirnya
Sambil menghirup teh dan mendengarkan radio benak saya menerawang membayangkan waktu yang harus ditempuh si 296A ini.

Lahir di akhir 30an tentunya ia bukan empunya sembarang orang. Mungkin ia ditempatkan dengan terhormat dan menjadi kebanggan sang pemilik. Sebentar dalam damai lalu datanglah Jepang menyergap. Beruntung ia tidak dihancurkan, tapi mungkin sempat disegel atau disita.

Ia juga harus melewati hiruk pikuk menjelang 1945 dan revolusi 1948-1949. Lalu mungkin juga mendengarkan siaran geger 1965. Dan entah bagaimana akhirnya bisa bertahan hingga Millenium ini, bahkan dengan kondisi nyaris sempurna!  Pemilik pertamanya jelas sudah almarhum, tapi radio masih utuh di usia di lebih dari tujuh puluh tahun.

Kini radio kembali menunaikan tugasnya  untuk mengantar hiburan dan informasi. Siaranya jelas tak sama, tapi kehangatan dan kejernihan suaranya mungkin sama yang didengar puluhan tahun lalu saat masih baru. Benar-benar menyenangkan memiliki radio seperti ini!

Teh kembali saya seruput diiringi rayuan lembut biduanita yang penuh nuansa nostalgik…slurrruppp….