Radio Philips 256A Jang Aseli!

256a

IF

Radio ini dulu disebut “Philips Aida”. Tampilan depannya simetris dengan disain agak kaku, kanan untuk kaca gelombang, kiri untuk speaker, kemudian dibawahnya 4 tombol pengatur. Display gelombang menggunakan Indische Schaal yang khas 30an. Radio dengan body bakelite ini memiliki gelombang kerja di MW dan SW1-SW2.

Pada mesin tercantum tipe radio yakni 256A, tapi ada juga yang tertulis 256A-02. Mengacu pada identifikasi Gerard Corner penulisan seperti ini menunjukkan radio dibuat sebelum era 1945-1955 alias era Pre War. Apalagi komponen di dalamnya yang tipikal pre war yakni tabung Red E (kaki bebek) dan deretan tabung aluminium sebagai wadah koil-koilnya.

Menariknya, radiomuseum.org justru menulisnya sebagai buatan 1946. Termasuk buku Radio Vademecuum yang mencantumkan 1946/47. Sumber yang agak berbeda adalah Indische Radio yang menyebutnya dari 1939. Mana yang benar?   Cukup lama saya bingung dengan pengkodean ini.  Sumber dari radiomuseum.org sementara saya jadikan pegangan.

Akhirnya, tanpa sengaja saya menemukan ‘missing link’ tersebut. Sebuah blog jual beli antik memasang majalah Java Express dengan salah satu halamannya berisi iklan radio baru yang disebut Philips Aida alias Philips 256A. Dan majalah tersebut terbitan 1939!

majalah

Bergegas saya tulis email sambil menyertakan temuan tersebut ke Om Pieter de Kock. Beliau sangat antuasias dengan potongan majalah tua tersebut dan mengatakannya sebagai ‘valuable clue to the history of type 256A and its versions. Dan ternyata masalah ini pun pernah menjadi salah satu thread di Nederlands Forum over Oude Radio’s pada 2008 silam.

Setelah beberapa email akhirnya disimpulkan:

1. Radio Philips tipe 256A memang ada dua versi, yakni pre war dan post war II. Kemungkinan besar kode -02 pada penulisan tipe 256A-02 menunjukkan “versi kedua” alias buatan post war.

2. Pembeda utamanya adalah tabung RF dan penguat MF. Radio pre war menggunakan ECH3 dan EF8, sementara post war ECH4 dan EF9.

Nah kenapa tipe yang sama dibuat dua kali? Apakah karena pembaruan atau sebab lainnya? Bukankah pada masa itu (1946) sudah ada tabung yang lebih baru, efisien, hemat energi ketimbang tipe kaki bebek?

Jawabnya: surplus lampu kaki bebek usai perang dunia. Tabung yang sedianya untuk produksi tahun ’40an tertumpuk karena pabrik berhenti bekerja. Setelah perang ternyata teknologi tabung melejit menghasilkan tipe-tipe terbaru alhasil surplus dari awal perang dunia menjadi usang. Daripada dibuang percuma maka dibuatlah tipe 256a-02 pada 1946/1947.

Dan radio yang saya miliki adalah 256A tanpa embel-embel 02, alias buatan pre war! Masa yang sama dengan Philips 296A.

Radio saya peroleh pada 2004 dalam kondisi casing retak kanan kiri, tutup belakang tidak ada, speaker hilang, trafo power hilang, tabung AZ1 hilang. Untuk onggokan tersebut saya menebusnya dengan Rp 130.000 di pasar loak Jembatan Hitam Jatinegara Jak Tim. Butuh waktu 8 tahun untuk bisa memfungsikan radio, dari pengumpulan spare part hingga reparasi mesinnya.

Reparasi tidak terlalu ribet dibanding 296a. Semua elco dan black tar caps ganti yang baru, begitu juga wiring dan beberapa resistor. Yang sulit justru mencari trafo power dengan output 6.3V–4V–250V, speaker paku tiga, dan melepas mesin dari casing!

Ketika dinyalakan radio mengalami suitan osilasi pada setiap gelombangnya. Pemeriksaan cepat menunjukkan tabung EBF2 menjadi sumbernya: ketika digoyang goyang osilasi menghilang. Sama seperti radio 296A sebelumnya, tabung saya lilit dengan kawat lalu diground ke chasis. Radio akhirnya menyala normal.

Tipe 256A yang beredar di Indonesia ternyata memiliki 6 tabung bukan 5 seperti tertera dalam skemanya. Tabung ekstra tersebut adalah EBF2. Menurut skema tersebut sinyal MF yang dikuatkan EBF2 langsung diumpankan ke final EL3 tanpa melalui pre amp audio.

256a non ebf2

Radio saya memiliki 6 tabung yakni ECH3–EF8–EBF2–EBF2–EL3–AZ1. Ekstra EBF2 tersebut berfungsi sebagai pre amp audio dan hanya berfungsi jika saklar phono/amplifier dipilih. Dan sebaliknya jika saklar menunjuk ke “radio” EBF2 menjadi tak berfungsi, nganggur, idle.

Akhirnya radio saya modifikasi, ekstra EBF2 saya ganti dengan EF6 yang lebih cocok dan dibuat permanen tanpa melalui saklar pemilih. Radio sekarang memiliki pre amp audio EF6 sehingga suaranya lebih baik ketimbang langsung diumpankan final EL3.

Radio sekarang berfungsi baik. Penerimaannya cukup bagus terutama karena dibantu penguat RF di depan. Menurut saya radio pre war khususnya era 30a selalu memiliki mesin yang tangguh, baik penerimaan maupun audionya. Barangkali skala ekonomi belum jadi pertimbangan kala itu. Semua serba besar, penuh seni, menggunakan material yang terbaik. Tak heran jika radio hanya bisa dimiliki kaum berduit.

Temuan dari majalah tua era 30an sangat membantu dalam pelacakan sejarah radio ini. Maklumlah dokumen terkait radio di Indonesia (Indische Nederland) tak banyak tersisa sekarang. Apalagi yang bersifat teknis semisal berapa banyak radio yang masuk, tipe yang beredar, tipe yang dirakit, dll. Kemungkinan dulu ikut terbawa atau dimusnahkan pada masa nasionalisasi tahun 50an. Blog atau lapak jual beli barang bekas bisa jadi salah satu peruntungan untuk menemukan dokumen semacam. Dari majalah itu pula saya baru mengerti kenapa tipe ini disebut Philip Aida.

Sekarang, dengan mesin, komponen, dan tampilan nyaris identik, apakah sekarang perbedaan pre dan post war menjadi penting? Sepertinya itu hanya ada di perasaan saja: radioku lebih dulu darimu, hehehe..

IF

IF

kakibebek2

2

5

Data teknis :
Tabung                      :  ECH3–EF8–EBF2–EBF2–EL3–AZ1
Gelombang kerja   :  band A 22.2 – 6.67MHZ
band B 6 – 1.8MHz
band C 1800 – 535.35KHz  (dibagi menjadi normal&lokal)
Konsumsi listrik     : 50 watt
Ukuran                      : 50 x 22.5 x 29cm,   10.75kg
Tahun                        : 1939

foto koleksi pribadi dan copas blog mas Tommy