Philips 153A, Radio Murah untuk Ned.Indie

20160224_134334.jpg

Sebuah radio kembali masuk meja reparasi. Kali ini adalah Philips 153A buatan 1937. Kotaknya terbuat dari bakelite, bukan kayu. Ukurannya terbilang kurang umum: T36cm x L32cm x P15cm sehingga terlihat ramping. Disainnya sangat sederhana agak kaku. Sekilas mengingatkan saya pada radio sejuta umat di Jerman, Ve301.

20160224_134315

Terdapat tiga knob di depan dengan skala gelombang berbentuk lingkaran dari plastik yang disablon. Menurut skalanya radio ini bekerja di gelombang 70-200m dan 25-65m yang dipilih melalui saklar di bagian tengahnya. Line upnya juga sederhana: EF5, EBC3, EL3, EZ2. Meski kecil tapi saat diangkat buseeet, berat sekali. Sayang saya tidak sempat menimbang, mungkin sekitar 5-8kg.

Saat pertama tiba radio terlihat utuh, lengkap. Bahkan hingga tutup belakang dan colokan aslinya. Barangkali hanya kabel listrik yang tak ori. Masalah baru muncul ketika saya berusaha membongkar radio. Chasisnya banyak dimakan karat sehingga mengeluarkan dari kotak benar-benar mimpi buruk bagi tukang radio. Butuh kerja keras berhari hari untuk mengurainya. Belum lagi kotoran tikus dan onggokan sampah yang terkumpul bertahun-tahun di dalam.

20151211_083113  20151211_083217

Setelah berhasil memisahkan mesin dan rangka speaker dari kotak, barulah masalah sebenarnya muncul. Humiditas tropis membuat beberapa komponen menyatu dengan chasis dan membuatnya rusak. Varco besi macet total, begitu juga varco kecil di bagian kanan depan. Komponen di dalamnya lebih terlihat sebagai sampah ketimbang sebuah mesin. 2 tabung elcap bahkan sudah kropos bawahnya. Trafo audio sudah tidak ada koneksinya. Untungnya trafo power supplya masih utuh, begitu juga tabung-tabungnya. Hehehehe….setidaknya masih ada yang bisa disyukuri. Radio akhirnya saya istirahatkan dulu sembari mereparasi lain yang lebih sederhana.

20160210_121848   20160211_075705

2 bulan kemudian.
Saya mulai lagi menggarap rongsokan yang membuat mules itu. Mula-mula saya pelajari skemanya. Barulah saya sadari ternyata Philips 153A adalah radio regeneratif!

Untungnya saya cukup familiar dengan radio berjenis regeneratif. Saya bahkan pernah merakit dengan tabung 12AF6 di sini dan 12AU7. Termasuk juga mereparasi radio Philco 80B yang berjenis regeneratif.

Radio regeneratif adalah pengembangan lanjut radio kristal berkat penemuan tabung trioda. Sebelumnya tabung hanya berfungsi sebagai “diode” untuk memisahkan sinyal radio dan sinyal audio. Tabung tersebut dikenal sebagai Fleming Valve sesuai nama penemunya yakni John A.Fleming.

Pada 1907 Dr.Lee De Forest menambahkan satu elemen dalam tabung Fleming sehingga menjadi “triode”. Selanjutnya ilmuwan Edwin Armstrong melihat potensi penemuan tersebut sebagai penerima radio. Hasilnya adalah rangkaian penerima radio regenerative yang dipatenkan pada 1913.

Secara sederhana radio regeneratif adalah rangkaian radio yang menggiring balik (feeding back) sejumlah sinyal yang sudah dipisah dan dikuatkan oleh triode kembali ke input melalui feedback loop atau gulungan tickler. Hasilnya sinyal menjadi lebih kuat. Sehingga ciri utama dari radio ini adalah adanya gulungan tickler dan tabung triode.

Rangkaiannya sangat sederhana dengan sedikit komponen. Tentu saja kualitasnya dibawah radio tipe superheterodyne, tetapi inilah cara terbaik untuk membuat radio yang murah dan mudah pengoperasiannya.

Berikut skema asli Philips 153A. Perhatikan radio ini memiliki penguat RF yakni EF5 dengan mode untuned grid. Potensiometer berfungsi sebagai Gain Control atau mengatur kuat lemah sinyal yang masuk. Kemudian L3-L4 spoel utama, L5-L6 feedback loop atau tickler. Vc1 yang diparalel dengan gulungan tickler adalah pengatur sinyal feedback (regenerative control). Sementara Vc2 yang diparalel dengan spoel utama adalah pemilih gelombangnya. Tabung EBC3 dimanfaatkan triodenya saja. Sinyal kemudian dikuatkan oleh penguat audio EL3.

C360_2015-10-26-09-34-32-730[1].jpg

Awalnya saya berencana menggulung ulang spoel aslinya. Tetapi ketika tabung spoel saya bongkar, astagaaa…..isinya benar-benar horor! Ada serpihan kertas, sisa-sisa tubuh kecoak, pecahan telur cicak (banyak), bangkai anak cicak, kotoran kecoak. Dan yang paling bikin lemes adalah kawat spoelnya putus semua karena termakan karat! sulit untuk melacak dimana ujungnya karena sudah hancur. Ide untuk menggulung ulang langsung buyar.

20160210_132851_LLS    20160211_073227

Lama saya merenung melihat kondisi radio tersebut. Spoel rusak, semua varcapnya mati tak bisa digerakkan dan dilepas, komponen busuk semua. Sempat terpikir untuk memasang tuner FM toh yang penting klien senang bisa menangkap siaran. Akhirnya saya putuskan mengambil jalan berat: radio saya bangun ulang dengan komponen dan rangkaian yang lebih baik.

Mula mula semua komponen dibuang hanya menyisakan soket tabung, potensiometer RF gain, transformer PS,  dan jalur filamen. Lalu semua varcap dibuang.Dua buah elcap saya buang dan bersihkan dudukannya. Begitu juga koil disingkirkan. 4 hari kemudian yang melelahkan barulah chasis bersih siap untuk dirakit ulang. Karat gimana? Wah udah terima sajalah. Saya masih cukup waras untuk tidak menggerindra dan mengecat ulang chasis!

20160215_070840

Skema saya gambar ulang dengan beberapa modifikasi sesuai ketersediaan komponen di meja :

2016-02-26-17-07-20.jpg

Pengatur lilitan tickler menggunakan fixed throttle capacitor yang dihubungkan ke potensiometer 50K. Lalu C dan R grid leak diubah nilai dan susunannya. Saya pasang cap Mica 100pF dan R 8Mohm. Demikian pula untuk bagian audio sedikit dimodif untuk menghasilkan suara lebih baik. Choke saya non fungsikan karena hanya berfungsi untuk menghasilkan sinyal negatif ke grid 1 EL3. Bagian power supply diganti dengan penambah R divider yang juga berfungsi sebagai smoothing.

Lalu spoelnya.
Saya berencana membuat radio hanya menangkap gelombang MW dengan range 530KHz-1600KHz. Diperlukan pasangan L (coil) dan C (varcap) untuk membuatnya. Saya berhasil memperoleh varcap besi kecil 360-6pF dari kiriman Amerika. Untuk koil saya ambil saja gulungan bekas tisu WC lalu semprot dengan cat hitam biar sangar. Bagusnya sih pakai pipa pralon. Kawat email untung masih punya dari sisa proyek radio kristal silam. Ukurannya 24AWG atau sekitar 0.02mm.

Untuk membuatnya sederhana saja. Saya menggunakan cara sama saat membuat radio kristal yakni dengan Coil Calculator di sini 

1. Mula mula pada bagian Resonance Calculator masukkan nilai spoel yang diinginkan     (warna merah). Biasanya untuk gelombang MW menggunakan 250uH.
2. Setelah itu isi kolom berikutnya dengan nilai varcap yang kita miliki, yakni 360pF.
3. Lalu enter ketemulah gelombang (warna biru) yang akan kita tangkap yakni 0.531MHz atau 531KHz. Pas dengan lebar radio MW yang dari 530KHz hingga 1600KHz.
4. Selanjutnya pada Coil Calculator masukkan diameter koilnya. Saya menggunakan koil berukuran 2.2in dan kawat 24SWG. Diperlukan sedikit coba-coba untuk mengetahui jumlah lilitan yang diperlukan.
5. Setelah beberapa kali coba saya temukan angka 74 (warna merah) pada ‘Number of Turns’ untuk menghasilkan nilai mendekati 250uH. Lihat angka sejajar dengan 24 yakni 251.7uH (warna biru).

Jadi dengan koil berdiameter 2.2in, varcap 360pF, dan kawat 0.02mm diperlukan lilitan sebanyak 74 agar dapat menangkap siaran MW di 530KHz sampai 1600KHz. Tentu saja ini hanya perkiraan saja, tidak presisi sekali.

Untuk tickler saya menggunakan ‘rule of thumb’ dalam dunia lilit melilit yakni sebanyak 1/3 lilitan utama, atau 74/3=24. Sedangkan kopling antenanya cukup 20.

Belakangan lilitan saya modif karena radio sulit sekali ditala. Pada rangkaian regeneratif kuncinya adalah pada lilitan tickler: terlalu banyak sulit dikendalikan (bercuit cuit) tetapi terlalu sedikit radio lemah menangkap. Setelah beberapa kali uji coba akhirnya ketemu 3 lilitan yang fair enough.

Akhirnya radio bekerja! Di bawah terlihat radio masih amburadul sesaat setelah menyala.

20160216_165120.jpg

Berikutnya yang lebih sulit adalah mengembalikan radio ke kotak dengan semua knob bisa difungsikan. Nah ini diaa, karena varcap baru ukurannya lebih kecil sehingga harus dilakukan modifikasi agar bisa bekerja sempurna.

Umumnya radio menggunakan tali gelombang untuk menghubungkan varcap dan knob pemutar. Tapi yang ini menggunakan lempengan bundar akrilik yang dijepit ke roda pemutar gelombang. Lempengan dijadikan satu ke batang tuas (shaft) varcap dengan menyekrup di bagian tengahnya. Lalu lempengan bergerak karena sisi tepinya dihimpitkan ke sebuah  roda pemutar kecil. Roda tersebut kemudian bergerak karena batang tuas kita putar.

20160224_081652

20160224_081628

Nah sulitnya, lempengan akrilik berwarna kuning itu sudah rapuh dan gampang melengkung ketika diputar. Belum lagi varcap harus didudukan sedemikian rupa sehingga pinggiran lempengan masuk tepat ke celah roda pemutar.

Lempangan pemutar akrilik kemudian saya beri penguat di belakangnya dan selotip di pinggirnya agar diperoleh friksi ketika diputar. Setelah lempengan terjepit benar ke roda pemutar lalu perlahan varcap saya tempatkan ke dudukannya dengan memberi lem Epoxy.

20160223_233914

Tuas potensiometer untuk kontrol regen saya sambung dengan batang akrilik agar panjangnya sama dengan aslinya. Lalu untuk OT saya gunakan transformer adapator 500mA karena yang asli sudah putus.

Perhitunganya sederhana saja. Mula mula harus diketahui nilai resistensi dari EL3 yakni 7K. Lalu harus dipilih perbandingan lilitan P dan S yang tepat dengan menggunakan speaker 4ohm (bawaan aslinya).

Pada rangkaian ini P saya pilih 0-220V lalu S di 0-4,5V. Perbandingannya adalah 220:4.5 =48.8. Lalu dikuadratkan ketemu 2.381. Jika dihubungkan dengan speaker 4Ohm maka ketemu 2.381 x 4Ohm =9.52Ohm. Cukup mendekati nilai R tabung EL3 yang 7KOhm. Tap 0-220V dihubungkan ke anoda EL3 dan  B+ lalu yang 0-4.5 pasang langsung ke speaker

20160224_081712  20160223_233622

Bagaimana penangkapannya? Tak terlalu buruk. Dengan hanya seutas kabel 2 meter dalam ruangan radio bisa menangkap pemancar Cempaka suara di 1575KHz dan ujung bawah 585KHz. Sayangnya radio Inyong di 550KHz yang sering jadi patokan tak tertangkap. Mungkin antena kurang tinggi. RRI di 999KHz dapat ditangkap, lalu Radio Silaturahim di 720KHz, Rodja di 756KHz, lalu beberapa yang tidak saya hafal.

Penyebaran stasiun radionya juga pas, artinya yang 585KHz nyaris di paling kiri lalu yang 1575KHz di pinggir paling kanan. Hanya saja memang diperlukan antena dan ground yang baik agar dapat menangkap semua stasiun di Jakarta dan sekitarnya.

Untuk mengoperasikannya sedikit ribet. Pertama putar maksimal knob RF Gain di sebelah kiri, lalu putar separuh knob Control Regen di kanan. Kemudian putar knob pemilih gelombang di bagian tengah hingga tertangkap siaran radio. Lalu putar putar lagi control regen hingga suara terdengar paling bersih dan bagus. Jika control regen terlalu besar maka radio akan mencuit, tetapi jika kurang maka siaran tidak tertangkap.

Kuncinya adalah putar control regen hingga tepat sebelum suara cuit terdengar, nah inilah kondisi siaran terdengar paling sip. Jika sudah diperoleh keseimbangan tersebut maka radio tak perlu lagi diatur regennya. Suara cuitan ketika mengatur regenerasi itulah menyebabkan radio ini dulu disebut “radio cuit”.

Tanpa adanya AVC stasiun radio yang jauh terdengar lirih dan yang dekat menjadi keras sekali. Aslinya radio ini memiliki trimmer untuk mengatur tingkat penerimaan pemancar, sayang sudah rusak dan harus saya ganti dengan langsung memasang potensiometer RF Gain.

Radio Murah Untuk Semua
Berdasar informasi dari potongan iklan Indische Courant radio ini dibuat pada 1937 khusus untuk pasar Hindia Belanda. Menariknya, harganya terbilang murah dibanding radio sejaman yakni f89.5. Bandingkan misal dengan 323A pada tahun yang sama seharga f298 atau dengan Victoria ‘Tengkorak’ buatan 38 seharga f119. Bahkan kalau tidak salah memahami, di iklannya disebutkan radio bisa diangsur per bulannya f5.85. Sudah murah bisa diangsur pula.

Philips_153A.jpg

Rupanya Philips menggunakan teknologi yang terbilang jadul–bahkan untuk jaman itu–yakni radio regeneratif. Dengan cara tersebut komponen terutama tabung dapat dikurangi untuk menghemat biaya.

Dari perbincangan dengan pakar radio di Belanda, John Koster, disebutkan bahwa saat itu perusahaan Philips mendapat tekanan dari Dewan Rakyat karena monopoli produknya. Dewan menginginkan radio dapat dinikmati lebih banyak orang terutama para ekspatriat di Hindia Belanda. Radio menjadi mahal karena biaya kirim dan biaya komponennya apalagi pada saat itu Philips belum membuka pabrik perakitan di Hindia Belanda. Akhinya keluarlah produk ini, philips 153A.

20160224_134228

20160224_134447   20160224_134557

Dan tentu saja sekarang radio menjadi tidak murah lagi. Apalagi dengan kotak bakelite dan sistem penerimaan regeneratif yang terbilang langka.

Meski tak sesempurna radio jaman sekarang dalam penangkapan, radio seperti ini layak dilestarikan apalagi tipe ini khusus dibuat untuk pasar Hindia Belanda…………..cuiiiiiiiiiiiitttttt.

terimakasih pada :
1. mas Edo S.S atas peluang mereparasi koleksinya
2. Om John Koster di http://www.vintageradio.nl atas diskusinya